//
you're reading...
Sangiran

SANGIRAN PEMBUKA TABIR KEHIDUPAN


BAB I
PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG

Mempelajari kehidupan manusia, tidak terlepaas dari manusia itu sendiri. Bagaimana muncul dan terjadinya sebuah kebudayaan dalam kehidupan manusia yang beraneka ragam mewarnai penelitian sejarah manusia.
Pembagian ruang lingkup sejarah terbagi dua, yaitu: Masa prasejarah dan Sejarah. Masa prasejarah dibatasi dengan masa dimana manusia belum mengenal tulisan. Sedangkan masa Sejarah adalah : Masa dimana manusia sudah mengenal tulisan.
Penelitian kehidupan masa prasejarah menjadi sangat menarik karena belum adanya kepastian dari penelitian-penelitian yang sudah dilakukan para ahli purbakala. Para peneliti selalu mencoba mencari, menemukan, dan meniliti, agar dapat menemukan jawaban atas apa yang mereka cari. Berbagai tempat didatangi dalam usaha peneitian tersebut termasuk sangiran.
Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah mengadakan Study Tour atau Studi Lapangan ke situs prasejarah Sangiran yang dilaksanakan setiap awal perkuliahan untuk semester gasal (pertama). Kegiatan ini dilakukan untuk menambah rasa kecintaan terhadp sejarah manusia, khususnya budaya bangsa. Disamping itu kegiatan ini dilaksanakan untuk mendorong rasa ingin tahui mahsiswa Jurusan Pendidikan Sejarah untuk melakukan pengamatan atau penelitian terhadap tempat-tempat prasejarah khususnya museum situs prasejarah Sangiran. Situs Sangiran merupkan situs manusia purba terlengkap didunia dan menjadi situs prasejarah dunia. Kehadiran Sangirn dpat mnggambarkan kehidupan manusia dan benda-benda sekitarnya pada masa lampau. Di Sangiran ditemukan fosil-fosil tengkorak yang dapat menggambarkan evolusi asal usul manusia, sperti terlihat dengan adanya tengkorak Australopithecus Africanus, Pithecantropus Erectus, Pithecantropus Soloensis, dan Homo Sapien (Manusia Wajak). Tidak hanya fosil manusia pra sejarah fosil-fosil binatang laut dan darat hingga benda purbakala seperti Flakes dapat ditemukan di Sangiran.
Atas dasar keunikan Sangiran inilah yang membuat makalah ini diberi judul”Sangiran Pembuka Tabir Kehidupan”. Situs prasejarah Sangiran membuktikan serta meberi informasi bahwa adanya kehidupan pada masa lampau serta menunjukan bahwa kebudayaan pada masa lampau telah memiliki peradaban yang tinggi khususnya bangsa Indonesia.

I.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang dapat dirumukan beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini. Beberapa masalah tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana proses terbentuknya situs Sangiran.
2. Siapa saja yang mengungkapkan situs Sangiran.
3. Bagaimana pemeliharaan dan pelestarian terhadap benda-benda purbakala.
4. Apa sumbangan Sangiran untuk masyarakat sekitar dan bagi Ilmu pengetahuan.
5. Bagaimana terjadinya proses evolusi manusia.

I.3 TUJUAN PENULISAN

a. Untuk menjelaskan sejarah berdirinya Sangiran
b. Untuk menjelaskan penemu-penemu situs Sangiran
c. Untuk dapat menjelaskan pemeliharaan dan pelestarian benda-benda yang terdapat di museum sangiran
d. Untuk menjelaskan sumbangan sangiran bagi ilmu pengetahuan
e. Untuk menjelaskan proses terjadinya manusia

1.4. MANFAAT

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas laporan dari kegiatan StudyTour yang diadakan oleh mahasiswa pendidikan sejarah Universitas Sanata Dharma. Diharapkan agar makalah ini bermanfaat bagi pelajar, selain sebagai bahan bacaan pribadi, dapat juga menambah wawasan tentang kehidupan prasejarah.
Bagi para sejarawan juga dapat menjadikan makalah ini sebagai tambahan referensi., selain itu juga dapat dijadikan koleksi kepustakaan tentang prasejarah ,yang dapat digunakan sewaktu – waktu.

BAB II
PEMBAHASAN
II.1. PROSES TERBENTUKNYA SANGIRAN

Situs Sangiran merupakan daerah perbukitan yang mencakup kawasan seluas 32 km² dengan bentangan arah dari utara ke selatan kurang lebih 8 km dan dari barat ke timur kurang lebih 4 km². Daerah ini meliputi 12 kelurahan di 4 kecamatan, yaitu kecamatan kalijember, gemolong, plupuh, dan godangrejo. Daerah sangiran memiliki sebuah sungai yang membelah daerah tersebut daerah tersebut menjadi dua , dikenal dangan nama kali cemara yang bermuara di bengawan solo.
Pada awalnya sangiran merupakan lautan dangkal. Pada saat itu keadaan bumi masih belum stabil seperti sekarang, di beberapa bagian bumi seringkali mendapatkan pergerakan di dalam perut bumi yang disebabkan adanya dorongan tekanan endogen. Sangiran juga mengalami hal serupa, karena adanya dorongan tenaga endogen (dari dalam bumi) terjadi pengankatan dan pelipatan pada permukaan laut sangiran. Akibat dn pelipatan permukaan maka terbentuklah daratan-daratan yang mengisolasi sebagaian lautan tersebut sehingga menjadi danau dan rawa-rawa.
Saat terjadinya masa glacial (pembekuan), permukaan air laut menyusut, itu disebabkan karena adanya pembekuan es di kutub utara. Maka muncullah daratan-daratan di permukaan bumi. Danau dan rawa sangiran yang terbentuk dari lautan dangkal juga menjadi daratan kering.
Proses pembentukan situs sangiran erat kaitannya dengan aktivitas gunung lawu tua. Kubah sangiran diperkirakan terbentuk akibat gaya kompresi dari runtuhan gunung Lawu tua, gaya endogen berupa pengakatan dan pelipatan tanah serta gaya gravitasi bumi. Gaya kompresi yang sama juga menyebabkan terbentuknya kubah-kubah lain seperti: Kubah Gemolong, Kubah Gamping, Kubah Bringinan, Kubah Gesingan, daN Kubah Munggur.
Tenaga endogen yang terjadi berulang-berulang mengakibatkan permukan tanah di sangiran naik akibatnya adanya dorongan di dalam dan membentuk bukit. Kemudian karena aktivitas gunung lawu membuat tanah perbukitan longsor dan membentuk kubah, tanah di sekitar sungai cemarapun ikut longsor. Akibat dari hal tersebut, terbentuklah lapisan tanah yang berbeda dari lapisan tanah permukaan. Lapisan tanah yang terbentuk adalah lapisan dari jaman purbakala dimana hsil dari terbentuknya tanah sangiran membuat para ahli purbakala dan masyarakat sekitar menemukan bukti-bukti kehidupan masa prasejarah. Higga kini lapisan tanah (stratigrafi) yang dapat ditemukan dan diteliti terdapat 4 lapis.
Situs sangiran merupakan daerah perbukitan yang terbentuk dari fragmen-fragmen batu gamping foraminifera dan batu pasir yang tercampur dengan Lumpur saat masa halosen. Juga yang endapan alivial yang terdiri dari campuran lempung, pasir, kerikil, dan krakal dengan ketebalan kurang lebih 2 meter yang dapat terlihat di sungai cemara. Sungai cemara yang mengalir didaerah sangiran merupakan sungai anteseden yang menyayat kubah sangiran. Hal ini menyebabkan struktur kubah dan stratifigrafi tanah daerah sangiran dapat dipelajari dengan baik.
Tersingkapnya tanah di tepi sungai cemara menunjukan aktivitas erosi dan sedimentasi yang intensif pada masa sekarang. Proses erosi tersebut mengakibatkan munculnya fosil-fosil binatang maupun manusia purba di permukaan tanah sehingga sering ditemukan fosil-fosil setelah turun hujan.
Akibat dari dorongan tenaga endogen pada awalnya, aktivitas erosi dan sedimentasi yang tinggi maka menyebabkan pengangkatan dan pelipatan tanah sangiran, sehingga lapisan tanah sangiran terbagi dari 4 lapisan berbeda yang dapat menggambarkan kehidupan pada masing-masing zamannya.

1. Formasi Kalibeng

Formasi kalibeng merupakan endapan tertua di kubah sangiran, terdiri dari batu Napal Pasiran warna abu-abu kehitaman dan disisipi bau gamping balanus dan korbikula.
Ketebalan formasi kalibeng lebih dari 130 meter, kandungan fosilnya antara lain foraminifera, molusca laut. Dismaping itu juga banyak ditemukan gastropoda dan molusca air payau, ini menunjukan bahwa lingkungan pengendapannya adalah air payau (peralihan antara air asin dan air tawar). Makin keatas lapisan tersebut berubah menjadi semakin pasiran.
Mengandung ostrea berkulit tebal yang menunjukaan organisme ini hidup di pinggir laut.
Lapisan berfasies pasiran diatas ditutupi oleh batu gamping balanus. Hewan ini hidup dizona anatar laut pasang dan surut. Sehingga dapat diperkirakan batu gamping ini diendapkan di lingkunagn tersebut. Lapisan teratas terdapat batu pasir yang mengandung korbuline, yaitu paleoypoda yang sering hidup di air tawar. Daru urutan fasies tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada waktu pengendapannya berbagai lapisan tersbut yaitu formasi kalibeng mengalami susut laut (regresi) berubah menjadi daratan.

2. Formasi Pucangan
Formasi Pucangan terjadi pada kala pleistosen bawah, berumur sekitar 700.000-1.800.000 tahun yang lalu. Dua pasies pokok yang terdapat pada formasi ini adalah pasies batu lempung hitam laut dan pasies breksi yang terdiri dari vulkanik tufaan sampai pasiran. Pada pasies ini banyak ditemukan fosil vertebrata. Fragmen batuan berupa batu pasir gampingan dari formasi kalibeng jug dijumpai pada pasies breksi kalibeng bagian bawah. Keadaan ini menunjukan bahwa formasi kalibeng. Susunan tanah menurut J. Duyfjes, dari atas sampai kebawah sebagai berikut:

• Endapan batu pasir tufaan setebal 35 meter.
• Batu pasir tufaan yang mengandung tanah liat dan napal yang berisis kerang laut setebal 10 meter.
• Lapisan lempung berwarna kehijauan setebal 5 meter.
• Batu pasir kasar, konglomerat atau batu adesit setebal 100 meter. Pada lapisan ini ditemukan fosil Pithecantropus (homo erectus).
• Endapan batu pasir tufaan dengan diselingi batu lempung.
• Napal dan batu pasir tufaan yang mengandung lempung dan molusca laut setebal 25 meter.

Pada formasi pucangan fosil tengkorak Pithecantropus Erectus, kemudian ditemukan juga fosil tengkorak Megantropus Paleojavanicus. Asosiasi hewan lain yang hidup berdampingan dengan kedua manusia purba tersebut adalah gajah, penyu, ikan hiu, badak, dll.

3. Formasi Kabuh

Endapan kala plastosen tengan terkenal dengan nama formasi kabuh. Formasi ini memperlihatkan endapan yang berasal dari gunung Lawu tua,berupa: batu tufa, batu pasir, dan konglomerat. Ketebalan formasi sangat bervariasi antara 10-16 meter. Formasi kabuh ini merupakan lapisan tanah yang terjadi pada kala plastosen tengah berumur skitar 125.000-700.000 tahun yang lalu.
Alat-alat dari batu telah ditemukan pada formasi ini. Dengan ditemukan alat-alat batu tersbut menunjukan bahwa pithecanthropus pada saat itu sudag mengenal alat-alat perburuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Formasi kabuh terdiri dari spesies fluviatil yang terdiri dari batu pasir dengan struktur silang-siur dan konglemaratrt. Formasi kabuh ini terletak di atas formasi pucangan secara tidak selaras.

4. Formasi Notopuro
Formasi Notopuro adalah lapisan tanah dikala plastosen atas yang berumur 10.000-125.000 tahun yang lalu. Formasi Notopuro adalah lapisan yang terbentuk oleh endapan lahar dan terdiri atas breksi andesit dan konglomerat. Pada formasi ini dijumpai Frakmen dari mineral kaledon, kaursa susu, carnelian, agate, kerikil andesit, tufa dan pasiran yang merupakan penyusun utama dari breksiden konglomerat. Pada endapan kerikil banyak ditemukn serpih bilah, yaitu alat pada tingkat perkembangan menjadi konglomerat dan batu pasir silang siur dengan ketebalan sekitar 2-45 meter tersebut menunjukan bahwa kala plastosen akhir telah terjadi banjir lahar yang besar.

II.2. PENGUNGKAP SITUS SEJARAH SANGIRAN

Penelitian terhadap situs sangiran diwali oleh Eugene Dubois pada tahun 1893 dimana sebelum dia mengadakan penelusuran mencari fosil nenek moyang manusia di Sumatra Barat, tetapi dia tidak menemukannya.
Selai Dubois, tahun 1930-an penelususranb dilakukan oleh GHR Von Koenigswald. Tahun 1934 Von Koenigswald berhasil menemukan kurang lebih 1000 alat batuan manusia purba yang pernah hidup di Sangiran.
Tahun 1936 Von Koenigswald berhasil menemukan fosil rahang atas manusia pdan selanjutnya ia memberi nama fosil Megantrophus Paleojavanicus. Tahun 1973 dia juga berhasil menemukan manusia purba yang dicari oleh Eugene Dubois yaitu Pithecanthropus Erectus. Penemuan kedua ini mendorong para ahli untuk mengadakan penelitian lanjutan di situs sangiran diantaranya : Helmut de Tera, Movius, P. Marks, RW van Bemmelean, H.R van Hekkeren, Gert jan Barsta, Francois Semah, Anne Marie Semah, M. Itahara. Sedangkan peneliti-peneliti dari Indonesia yang serius menangani sangiran adalah: R.P Soejono, Teuku Jacob, S. Sartono, dan Hari Widianto.

II.3. PEMELIHARAAN TERHADAP SANGIRAN
Perlindungan terhadap kawasan ini (Sangiran) bias dikatakan cukup ketat sebab beberapa waktu lalu ada beberapa benda purba (fosil) yang berhasil diselundupkan ke luar negeri. Maka untuk menjaga agar benda-benda tersebut tidak dijual kepada orang lain, maka masyarakat setempat yang berhasil menemukan benda-benda sejarah diminta untuk menyerahkan ke museum purbakala sangiran dan mereka akan mendapatkan imbalan.
Selain mendirikan museum situs prasejarah sangiran untuk menjaga kawasan sangiran, pemerintah juga mengeluarkan Undang-undang tentang perlindungan cagar budaya sangiran, yaitu:

1) Mengeluarkan SK. Mendikbud No. 70 / 111 / 1977 dan menetapkan sangiran sebagai cagar budaya. Semua fosil-fosil di wilayah sangiran dilindungi dan setiap temuan harus diserahkan kepada pemerintah.
2) UU No. 5 Tahun 1992 tentang benda cagar budaya yang lebih keras yaitu, menetapkan sangiran sebagai cagar budaya ( UNESCO )
Meskipun pemerintah telah membuat peraturan perundang-undangan tentang perlindungan cagar budaya, tetapi pada kenyataannya masih mengalami beberapa masalah yaitu;

a) Daerah yang seluas 32 km² hanya diawasi oleh tenaga yang sangat terbatas. Daerah itu hanya dijaga oleh 27 personil, termasuk 8 orang bertugas sebagai satpam.
b) Adanya tradisi memberi hadiah terhadap penemu fosil yang telah berlangsung sejak jaman pendudukan Belanda.
c) Para pembeli asing menawarkan harga yang lebih tinggi dibandingkan dari pemerintah, sehingga banyak penduduk setempat yang menjual fosil temuannya kepada pembeli asing.

II.4. SUMBANGAN SANGIRAN UNTUK MASYARAKAT SEKITAR DAN ILMU PENGETAHUAN

Sangiran memberi sumbangan tersendiri bagi masyarakat, khususnya di daerah sekitar situs sangiran dan masyarakat Indonesia, serta masyarakat dunia pada umumnya. Dengan kehadiran sangiran, masyarakat setempat dapat penghasilan dengan cara menjual berbagai macam fosil yang merupakan hasil temuan di situs sangiran.
Selain untuk masyarakat setempat, Sangiran juga memberi sumbangan tersendiri bagi masyarakat Indonesia yaitu sebagai sumbangan pengetahuan. Sedangkan untuk dunia Sangiran dijadikan situs penelitian dan study evolusi manusia purba oleh para ahli dari berbagai penjuru dunia.
Sangiran juga memberi sumbangan yang sangat berarti bagi ilmu pengetahuan yaitu sebagai salah satu tempat bagi orang-orang yang ingin mengetahui situs prasejarah dan suaka purbakala sangiran. Secara khusus bagi mahasiswa yang menekuni ilmu sejarah, dimana sangiran menyimpan peninggalan-peninggalan masa lampau. Selai itu juga sangiran menjadi sumber bahan penulisan buku-buku prasejarah di Indonesia.
II.5. KOLEKSI – KOLEKSI MUSEUM SANGIRAN
Koleksi yang berada di museum sangiran saat ini semua berasal dari sekitar situs sangiran. Koleksi – koleksi tersebut berupa fosil manusia, fosil hewan, fosil tumbuhan, batu batuan, sedimentani, dan juga peralatan dapur yang dulu pernah dibuat dan digunakan oleh manusia purba yang pernah bermukim di sangiran.
1. Fosil kayu yang terdiri dari
A. Fosil kayu yang terdiri dari
• Temuan dari Dukuh Jambu, Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar.
• Ditemukan pada tahun 1995 pada lapisan tanah lempung
• Warna abu-abu
• Formasi pucangan
B. Fosil batang pohon
• Temuan dari Desa krikilan , Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen
• Fosil ini ditemukan pada tahun 1977 pada lapisan tanah lempung
• Warna abu-abu dari endapan
• Formasi pucangan

2. Tulang hasta (Ulna) Stegodon Trigonocephalus
• Ditemukan di kawasan cagar sangiran
• Pada tanggal 23 november 1975 di tanah lapisan lempung
• Warna abu –abu
• Formasi kabuh bawah
3. Tulang paha
• Ditemukan dari Desa Ngebung, Kecamatan kalijambe, Kabupaten Sragen
• Pada tanggal 4 Februari 1989 pada lapisan tanah lempung
• Warna abu – abu dari endapan
• Formasi pucangan atas
4. Tengkorak kerbau
• Ditemukan oleh Tardi
• Pada tanggal 20 November 1992 di Dukuh Tanjung, Desa Dayu Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar pada lapisan tanah
• Warna coklat kekuning-kunginan yang bercampur pasir
• Formasi kabuh
• Berdasarkan penanggalan geologi berumur 700.000-500 tahun
5. Gigi Elephas Namadicus
• Ditemukan di situs cagar budaya sangiran
• Pada tanggal 12 Desember 1975, Pada lapisan tanah pasir bercampur kerikil berwarna cokelat
• Formasi kabuh
6. Fragmen gajah purba
• Hidup di daerah cagar budaya sangiran
• Jenisnya adalah:
a. Mastodon
b. Stegodon
c. Elephas

7. Tulang rusuk (Casta) Stegodon Trigonocephalus
• Ditemukan oleh Supardi
• Tanggal 3 Desember 1991 di Dukuh Bukuran, Desa Bukuran Kecamatan kalijambe Kabupaten Sragen pada lapisan lempung
• Warna abu – abu dari endapan pucangan atas
8. Ruas tulang belakang (Vertebrae)
• Ditemukan di situs cagar budaya sangiran
• Pada tanggal 15 Desember 1975
• Di lapisan tanah pasir
• Berwarna abu – abu
• Formasi kabuh bawah
9. Tulang jari (Phalanx)
• Ditemukan di situs sangiran
• Pada tanggal 28 oktober 1975
• Pada lapisan tanah pasir kasar
• Warna cokelat kekuning-kuningan
• Formasi kabuh
10. Rahang atas Elephas Namadicus
• Rahang ini dilengkapi sebagian gading
• Ditemukan oleh Atmo
• Di Dukuh Ngrejo, Desa Samomorubuh Kecamatan Plupuh Kabupaten Sragen
• Pada tanggal 24 April 1980
• Pada lapisan Grenz bank
• Antara formasi pucangan dan kabuh
11. Tulang kaki depan bagian atas (Humerus)
• Bagian fosil ditemukan oleh Warsito
• Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen
• Pada tanggal 28 Desember 1998
• Pada lapisan tanah lempung
• Warna abu – abu
• Dari formasi pucangan atas kala pleistosen bawah
12. Tulang kering
• Ditemukan oleh Warsito
• Di Dukuh Bubak Desa Ngebung, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen
• Pada tanggal 4 januari 1993
• Lapisan tanah lempung
• Warna abu – abu
• Dari formasi pucangan atas
13. Fosil Molusca
a. Klas Pelecypoda
b. Klas Gastropoda
14. Binatang air
1.Tengkorak buaya (Crocodilus Sp.)
• Ditemukan pada tanggal 17 Desember 1994
• Oleh Sunardi
• Di Dukuh Blimbing, Desa Ngebung, Kecamatan kalijambe kabupaten Sragen
• Formasi pucangan
2. Kura – kura (Chlonia Sp.)
• Ditemukan pada tanggal 1 Februari 1990
• Oleh hari Purnomo
• Dukuh Pablengan, Desa krikilan , Kecamatan Kalijambe, kabupaten Sragen
• Formasi pucangan

3. Ruas tulang belakang ikan
• Ditemukan pada tanggal 20 November 1975
• Oleh Suwarno
• Di Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen
• Formasi pucangan

II.6. PROSES EVOLUSI MANUSIA

Ciri tubuh makluk hidup itu ditimbulkan oleh faktor pewarsisan dan lingkungan. Satuan pewarisan yang terkecil adalah gena, gena yang terdapat berderet pada kromosom. Kromosom terdapat berpasang-pasangan dalam inti sel. Manusia sekarang mempunyai 23 pasang kromosom dan pada sebuah kormosom terdapat beberapa ribu gena. Setiap manusia ditaksir mempunyai 100.000 gena.
Pada kembang biak, gena dari kedua orang tua menurun kepada anaknya, sehingga terdapat kombinasi gena yang baru. Dalam suatu populasi, gena dan frekuensinya tidak berubah, kecuali kalau ada kejadian-kejadian tertentu. Perubahan dapat terjadi oleh faktor-faktor berikut: mutasi, yaitu gena atau kromosom berubah; seleksi alam, yang menguntungkan gena-gena yang sesuai dengan lingkungan, sehingga bertambah banyak dari generasi ke generasi, dan mengurangi gena yang tidak sesuai; arus gena, yaitu mengalirnya gena kedalam atau keluar suatu populasi; dan perubahan frekuensi gena secara rambang dalam populasi kecil, yang dissebut efek perintis atau efek Sewall Wright. Perubahan frekuensi gena disebut evolusi, yang berlangsung lambat laun dari angkatan ke angkatan, dan keempat faktor tadi disebut faktor-faktor evolusi.
Oleh karena itu, salah satu dari faktor itu pasti akan ada dalam suatu jangka waktu, maka evolusi senantiasa terjadi. Proses evolusi yang banyak terjadi dan diamati ialah Mikro-evolusi, yaitu perubahan frekuensi gena dalam ukuran kecil di bawah tingkat spesies. Mikro-evolusi ini menyebabkan timbulnya populasi lokal, subras atau ras baru.
Didalam evolusi manusia, kita lihat ada beberapa proses penting yang terjadi. Pertama-tama adalah sikap tuibuh dan cara bergerak. Sikap tegak adalah hal yang pokok,karena mempunyai rentetan akibat dalam evolusi manusia selanjutnya. Sikap tegak mulai dengan kemampuan duduk tegak, dan mulai tahapan berlari tegak, serta berjalan tegak, berakhir dengan bediri tegak untuk waktu yang lama. Dalam proses inilah terjadi perubahan pada tulang belakang, berpindahnya titik berat badan mendekati anggota bawah, spesialisasi anggota bawah untuk menampung berat badan seluruhnya serta bergerek. Anggota atas dibebaskan dari bebannya menampung berat badan dan gerak, serta lebih kecil daripada anggota bawah.
Perubahan-perubahan terjadi pada tubuh sendiri, oleh karena letaknya berubah dari horizontal ke vertikal. Pinggul sekarang menampung berat tubuh diatasnya dan isi rongga perut. Tulang-tulang tunggal makin bertambah kuat untuk menunjang berat badan. Tulang paha relatif bertambah panjang dan berat, tulang kering bertambah besar. Jari kaki mengalami reduksi, oleh karena tidak dipakai lagi untuk menggenggam. Dari fosil jejak kakinya dapat diketahui bahwa kaki manusia Neandertal ( Homo Neanderthalensis ) pendek dan lebar. Yang terpenting pada lengan ialah tangan sendiri, yang makin berkembang untuk menggenggam cermat, seperti dalam menggunakan alat kecil, tidak hanya untuk menggenggam kukuh, seperti dalam menggunakan alat besar. Sesekali tangan masih dipakai untuk membantu menumpu badan, tetapi sebagian besar pekerjaannya berhubungan dengan membuat dan mempergunakan alat, menyelidiki lingkungan sebagian demi sebagian, mencari, membawa, mempersiapkan, dam menyuap makanan, memelihara keberihan badan, mempertahankan diri dan mengasuh anak-anak. Evolusi tangan sangat berpengaruh bagi evolusi budaya. Memakai, membawa, dan membuat alat dimungkinkan oleh pembebebasan dan perkembangan tangan.
Selain sikap tegak, yang pokok dalam evolusi manusia ialah evolusi kepala. Tengkorak terdiri atas tengkorak muka, dan tengkorak otak, oleh karena itu evolusi kepala berhubungan erat dengan evolusi muka,sebagai bagian teratas system pencernaan dan pernafasan, serta evolusi otak.
Perubahan makanan dan cara mengolahnya mempengaruhi alat pengunyah. Mulut pada primates tidak merupakan alat penangkap atau alat pengambil makanan, makanan dibawah dengan tangan ke mulut, yang bekerja sebagai alat pengunyah dan sebagian alat pencerna.

BAB III
PENUTUP

III.1 KESIMPULAN

Bertolak dari uraian terdahulu ada beberapa hal yang dapat diambil sebagai kesimpulan dari penulisan makalah ini.

 Situs Sangiran pada awalnya merupakan laut dangkal dan daerah payau kemudian terjadi proses pengangkatan dan pelipatan lapisan tanah.
 Di Sangiran di temukan Fosil-fosil manusia purba yang merupakan gambaran evolusi asal-usul manusia, seperti di ketemukannya fosil Australopithecus Africanus, Pithecanthropus Mojokertensis, Pithecantrophus Erectus, Pithecantrophus Soloensis dan Homo Sapiens (Manusia Wajak).
 Sangiran memberi sumbangan yang sangat besar bagi ilmu pengetahuan dimana Sangiran merupakan obyek penelitian bagi semua level pendidikan, terutama bagi para mahasiswa yang mengambil jurusan sejarah dan arkeolog. Dengan adanya fosil-fosil tersebut di sangiran, maka pemerintah mengeluarkan undang-undang yang melindungi situs sangiran.

Daftar Pustaka

Poesponegoro, Marwati D. 1981. Sejarah Nasional Indonesia I. Cetakan I. Jakarta:
Depdiknas.
Santosa, Hery. 2000. Sejarah Kebudayaan Indonesia. Yogyakarta: Universitas Sanata
Dharma.
Tjiptadi, Rusmulia. et al. 2004. Museum Situs Sangiran Sejarah Evolusi Manusia Purba
Beserta Situsnya. Koperasi Museum Sangiran.

About artantio

saya hanya manusia biasa yang gemar menulis... ^^

Diskusi

Belum ada komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: