//
you're reading...
Sejarah Jepang

KEBUDAYAAN JEPANG


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Jepang adalah sebuah negara yang membentang dari tmur laut sampai barat daya dan mempunyai luas wilayah sekitar 370.000 km2. jepang memiliki empat pulau besar yaitu Hokkado, Honshu, Shikoku dan Kyushu. Sampai saat ini Jepang merupakan Negara Kekaisaran yang hanya memiliki satu dinasti yang berkuasa. Menurut buku Kojiki yang ditulis pada tahun 712, kasisar jepang merupakan keturunan Dewa Matahari. Epang ketka memasuki jaman sejarah beum memiliki kebudayaan sendiri. Kebudayaan Jepang yang berkembang hanyalah merupakan modifikasi dari perkembangan kebudayaan Cina yang masuk ke Jepang. Wlaupun demikian Jepang ketika masih dalam jaman pra sejarah masih memiki kebudayaan asli yang cukup banyak walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa selanjutnya kebudayaan Jepang mendapat pengaruh kebudayaan Cina.

Kebudayaan tak dapat terkekang oleh perbatasan wilayah maupun perbatasan kebangsaan. Dengan adanya kebudayaan Tiongkok mengalirlah kebudayaan kebudayaan tersebut ke Jepang karena Jepang bertetangga dengan Tiongkok. Peradaban Jepang berbeda dengan perdaban Tiongkok. Peradaban Jepang berbeda dengan Cina, dengan adanya perbedaan peradaban tersebut adanya peradaban Jepang di bawah peradaban Cina sehingga membuat jepang inggin mempelajari dan mengetahui peradaban dari Cina.

Seperti yang terjadi di berbagai negara di dunia, setiap kebudayaan dari suatu negara yang masuk ke negara lain pasti akan menimbulkan sikap pro dan kontra dalam menyikapi kebudayaan yang masuk tersebut. Terlebih lagi apabila kebudayaan yang masuk tidak mau berakulturasi dengan kebudayaan setempat, pasti kebudayaan tersebut tidak akan diterima.

Demikian pula halnya dengan kebudayaan Cina yang masuk ke Jepang, ada kebudayaan Cina yang diterima dan ditolak oleh orang Jepang. Orang Jepang mau mengadopsi kebudayaan Cina apabila ia menganggap hal itu menguntungkan bagi orang Jepang dan orang Jepang tidak mau mengadopsi kebudayaan Cina apabila hal itu tidak menguntungkan.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang tadi maka dapat dirumuskan beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini. Beberapa masalah tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Jenis-jenis kebudayaan asli Jepang?

2. Bagaimana perkembangan kebudayaan asli Jepang sebelum masuknya kebudayaan Cina ke Jepang?

3. Bagaimana Pengaruh kebudayaan Cina terhadap perkembangan kebudayaan Jepang?

4. Bagaimana Sikap orang Jepang terhadap kebudayaan Cina?

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kebudayaan Asli Jepang dari Pra-Sejarah hingga sekarang

Hasil-hasil kebudayaan Jepang pra sejarah cukup banyak. Tentang uraian kebudayaan Jepang pada masa pra sejarah akan diuraikan sebagai beikut:

a. Zaman Palaeo dan Neolitikum

Penyelidikan arkeologi di jepang masih muda, dari zaman Palaeolitikum hanya sedikit yang diketahui. Tahunn 1931 Palaeolitikum hanya sedikit yang diketahui. Tahun 1931 di Honsu Selatan ditemukan benda-benda Palaeolitikum berupa alat-alat dari batu kasar bersama dengan sisa tulang-tulang gajah yang sudah musnah.

Disepanjang pantai Jepang bukit-bukit timbunan kulit kerang yang disebut Kaikuza dan sifatnya sama dengan bukit-bukit Kjokkenmodding di pantai Denmark dan Sumatera Timur (antara Medan dan Langsa) dimana juga terdapatr bekas rumah-rumah yang disebut Tate-Ana.

Dari dalam Kjokkenmodding itu juga ditemukan benda-benda Neolitikum yang terdiri dari alat-alat batu halus dan keramik. Dalam bentuknya yang tertua, kebudayaan itu berasal dari nenek moyang bangsa Ainu. Benda-benda keramik mempunyai bentuk dan corak yang khas, yang dalam arkeologi Jepang disebut Jomon. Keramik itu disebut demikian menurut bekas anyaman yang sering terdapat pada benda itu. Hiasannya terutama pada periuk Jomon dari zaman Neolitikum bagian yang lebih kemudian, terdiri dari lukisan yang berliku-liku dalam bentuk dekorasi timbul (relief). Ditemukan pula patung-patung orang dari tanah liat, kecil dan sangat sederhana bentuknya (haniwa). Periuk Jomon itu banyak ditemukan di Honshu Timur dan Utara.

Orang-orang dari zaman itu masih berburu dan menangkap ikan. Rumah-rumah berbentuk sarang lebah. Agama mereka bercorak dinamisme. Patung Haniwa boleh jadi patung dewi. Terdapat juga Gada batu dipakai dalam pembuatan magi (sihir). Orang mati dikuburkan tanpa peti mayat, tangan dan kaki bertekuk dan kadang dadanya ditindih batu besar.

Manusia Jepang pada masa ini telah mengenal kehidupan kolektif dan tidak mengenal perbedayaan kaya maupun miskin atau tidak mengenal strata. Namun merekaz sudah mengenal kepercayaan yang dinamisme. Patung-patung haniwa bole jadi merupakan cerminan dari dewa-dewa mereka. Ditemukan semacam gada yang terbuat dari batu dan kemungkinana dipergunakan dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat magi.

Mereka juga sudah mengenal sistem penguburan orang mati walaupun orang mati tdak dkuburkan dalam peti. Posisi kaki dan tangan ditekuk dan kadang-kadang dada mayat ditindih dengan btu yng besar. Penguburan tersebut dipercaya bahwa roh orang yang meninggal tidak akan kembali kepada tubuhnya.

b. Jaman Batu Perunggu dan Perunggu Besi

Dari beberapaa temuan peninggalan kebudayaan pada jaman batu perunggu dan perunggu besi dapat diketahui bahwa kebudayaan Cina telah masuk ke Jepang melalui Korea. Sekitar tahun 200 SM, pengaruh kebudayaan Cina mulai masuk ke Jepang melalui Korea mepengaruhi sistem pertanian dan juga patung-patung dari tanah liat. Kebudayaan baru tersebut disebut dengan corak Yayoi yang pusat kebudayaannya terletak di Honshu selatan dan Kyushu. Sedangkan pusat kebudayaan Jomon terletak di Honshu Timur dan selatan. Biasanya periuk jomon terdapat dalam lapisan yang dibawah Yayoi oleh karena itu Yayoi dianggap lebih muda.

Melalui Korea masuk juga kampak neolithikum yang berbentuk corong (kampak lensa). Periuk-peruk Yayoi bentuk dan perhiasannya lebih sederhana tetapi tekhnik pembuatannya lebih maju daripada peruk jomon. Selain itu juga ditemukan benda-benda logam diantaranya pedang, tombak dan loncenfg dari perunggu. Alat-alat perunggu diperkirakan dgunakan dalam upacara ritual seperti lonceng perunggu yang dsebut dengan dotaku yang menggambarkan cara penghidupan penduduk yang telah mengenal pertanian sederhana.

Penduduk Jepang juga sadar diperlukan kehidupan secara kolektif secara teratur. Disamping itu mulai muncul suatu dikotomi adanya kaya dan miskin sehingga menimbulkan perbedaaan sosial dan politik antara kelompok yang memerintah dengan kelompok yang diperintah.

Sensi-sendi Kebudayaan Jepang

A. Merangkai Bunga

Menurut Japan, The Official Guide, seni Ikebana (merangkai bunga) ini telah berkembang sampai saat ini merupakan usaha Jepang asli dimana bebas dari pengaruh luar negeri. Ada banyak cara merangkai bunga menurut selera orang Jepang. Jumlah cara itu melebihi 300, tetapi ke-300 lebih aliran merangkai bunga itu dibagi menjadi dua cabang utama, yakni formil dan wajar.

Yang termasuk cabang formil adalah style Rikka atau style berdiri. Dari style ini lahir sebuah bentuk yang disukai rakyat. Bentuk ini dinamakan style Ten-Chi-Jin, yakni style langit-bumi-manusia.

Sedang cabang wajar, mencakup juga apa yang dinamakan Nageire, atau style dilempar masuk. Semacam style pula, style Bunjin-Ike, berasal dari sekolah Nageire. Style Bunjin-Ike ini telah diciptakan oleh golongan sastrawan (Bunjin) abad ke-18.

2.2 Perkembangan Kebudayaan Asli Jepang Sebelum Masuknya Kebudayaan

Sebelum mendapat pengaruh secara intensif dari Cina sebenarnya kebudayaan Jepang sendiri belum berrkembang dan juga belum memiliki corak kekhasan sendiri artinya kebudyaan Jepang masih bersifat universal. Artinya setiap kebudayaan dimuka bumi ini pasti melalui tahap-tahap kebudayaan purba seperti yang terjadi di Jepang. Pada jaman Yamato sebenanya Jepang belum mampu menciptakan kekhasan kebudayaannya. Bahkan pada jaman Yamato Jepang belum memasuki jaman sejarah. Karena pada saat itu Jepang pada khususnya belum mengenal huruf-huruf sehingga dapat dikatakan Jepang masih dalam jaman pra sejarah.

Walaupun demikian, pada jaman Yamato sudah mulai berkembang kepercayaan Shinto yang tujuannya untuk pemujaan para dewa, shinto sendiri berarti jalan dewa. Pusat pemujaan dalam shinto adalah dewa matahari (ameterasu omiikmi) dan Jenno sebagai wakilnya dibumi. Untuk pemujaan dewi matahri itu didirikan sebuah kuil pemujaan di Ise dan di Idzumo untuk dewi bumi. Dalam kuil tersimpan cermin suci dari shintoisme. Melalu agama shinto terjadi pemujaan kekuasaan negara dengan Tenno sebagai lambangnya.

Perkembangan dalam bidang kebudayaan lainya adalah perkembangan teknik bercook tanam yang menjadi sifat dasar agraris Jepang sebelum berkembang menjadi negara industrialisasi. Dan juga dibangun sistem gilde untuk mengatur sistem perekonomian jepang pada waktu itu. Selain itu juga dikenal sistem penguburan jenasah orang yang telah meninggal. Penguburan ini menggunakan peti mati dan diiringi dengan upacara penguburan. Untuk keluarga Tenno dan orang terkemuka kuburnya dibangun di bukit-bukit yang disebut dengan tumuli. Kuburan atau tumuli untuk tenno disebut dengan misasagi dan memiliki ukran yang besar. Dalam tumuli tersimpan cermin perunggu, pedang, pakaian peang, helm dan ikat pinggang dari perunggu, manik-manik kecil berbentuk bulan sabit dan batu permata. Manik-manik bulan sabit tersebut sebesar kuku dan disebut dengan magatama.

Agama shnto berkembang dengan pesat. Kuil-kuil pemujaan banyak didirikan. Agama tersebut terdiri dari pemujaan-pemujaan terhadap tenaga alam, tidak mempunyai sistem etika atau kesusilaan, teologi dan tidak menyebut adanya surga atau neraka. Dewa-dewa yang baik disebut dengan kami dan jin atau setan disebut dengan oni.

Sebenarnya nama shinto diberikan pada kepercayaan atau agama tersebut setelah agama Budha masuk ke Jepang. Tujuannya untuk membedakan ajaran dan pelaksanaan antara kedua agama tersebut.

2.3 Pengaruh Kebudayaan Cina Terhadap Kebudayaan Jepang

Dahulu budaya Jepang merupakan budaya asli Jomon yang kokoh dengan pengaruh dari luar negeri yang menyusul. Pada awalnya China dan Korea membawa pengaruh, yang berawal dengan berkembangnya budaya Yayoi sekitar 300 SM yang mempengaruhi seni dan keagamaan di Jepang. Tapi dalam perkembangannya Kebudayaan Cinalah yang banyak memberikan pengaruh terhadap kebudayaan Jepang. Pengaruh budaya Cina masuk dan berkembang melalui orang – orang Tionghoa yang hidup dan menetap di Jepang, mereka membawa masuk unsur – unsur kebudayaan Tionghoa. Selain kebudayaan, agama, bahasa dan tulisan yang digunakan di Jepang juga mendapat pengaruh dari budaya Cina. Tentang ajaran konfusianisme, Taoisme dan agama Budha yang berkaitan erat dengan kebudayaan Cina sangat terkenal di Jepang. Setelah melihat cara hidup orang Tionghoa, orang Jepang pun merasa tertarik dengan cara hidup mereka. Dan orang Jepang menganggap semua yang datang dan berasal dari Tiongkok dipandang indah, ini mengakibatkan semua yang bersifat Tiongkok dipandang bagus oleh jepang. Selain itu dampak lain dari pengaruh kebudayaan Cina terhadap kebudayaan Jepang adalah dalam bidang arsitektur yang mana rumah-rumah Jepang juga terpengaruh oleh pola-pola rumah-rumah Cina. Namun, Jepang tidak menru begitu saja, tetapi justru memadukan unsur-unsur arsitektur Jepang asli dengan unsur-unsur arsitektur Cina. Meskipun Jepang menerima unsur-unsur kebudayaan Cina, tetapi tidak semua unsur diterima. Semua unsur kebudayaan Cina tersebut diolah dan dipadukan dengan kebudayaan Jepang. Dengan demikian terjadi akulturasi budaya antara budaya Cna dengan budaya Jepang. Selain tu akulturasi terserbut terlihat dalam bentuk kerajaan pada Jaman Yamato yang sudah berbentuk kerajaan kesdatuan. Di samping itu juga telihat dalam menyusun tarikh Jepang dan juga dalam bentuk peraturan-peraturan kerajaan. Namun meskipun mendapat pengaruh kebudayaan Cina, namun tidak seluruhnya diterima. Ada beberapa ciri khas kebudayaan Jepang tidak bisa dipengaruh atau digant dengan kebudayaan Cina. Hal tersebut menyangkut kedudukan Tenno sebaga simbol dea yang memanusia, karena Tenno adalah keturunan langsung dari Ameterasu. Selain itu juga kepercayaan Shinto tidak berubah menjadi konfusianisme yang dikembangkan oleh cina.

Berikut ini merupakan beberapa Budaya Cina yang telah mengalami akulturasi dengan kebudayaan Jepang:

a. Tulisan dan bahasa

Tulisan dan bahasa Jepang berasal dari tulisan dan bahasa China (kanji), Tulisan dan bahasa Cina masuk ke Jepang dibawa oleh seorang sarjana dari korea yang bernama Wani, awalnya dia hanya mengajarkan tentang huruf Cina. Tapi mempelajari tulisan Cina tidak bisa dilakukan tanpa mempelajari bahasa Cina. Sebelumnya orang Jepang tidak mempunyai sistem penulisan sendiri, maka orang Jepang mengambil sistem penulisan orang Cina. Dalam pemakaian huruf-huruf Cina, bangsa Jepang menggunakan dua cara, yaitu dengan cara fonetis dan cara ideografis. Dalam cara pertama dipergunakan untuk menulis atau membaca ucapan-ucapan Jepang yang ditulis dengan huruf Cina dan sebunyi dengan artinya, tetapi dipergunakan dengan ucapan-ucapan Jepang. Pada permulaan pemakaian, memang banyak terjadi kekacauan, terutama dalaam pemakaian cara fonetis. Namun, setelah mengalami perkembangan yang lama dan ditemukan sistem yang sempurna, akhirnya dapat dtuliskan tiap-tiap kata Jepang. Dan pada akhirnya tulisan dan bahasa yang berasal dari Cina ini dijadikan bahasa dan tulisan resmi di Jepang.

Tulisan Jepang terbagi kepada tiga:

· aksara Kanji yang berasal dari China

· aksara Hiragana dipergunakan dalam upacara-upacara yang bersifat ritual religius, dan

· aksara Katakana dipergunakan dalam kepentingan sehari-hari. keduanya berunsur daripada tulisan kanji dan dikembangkan pada abad kedelapan Masehi oleh rohaniawan Buddha untuk membantu melafazkan karakter-karakter China.

Bahasa Jepang yang kita kenal sekarang ini, ditulis dengan menggunakan kombinasi huruf Kanji, Hiragana, dan Katakana. Hiragana ditulis sesudah kanji untuk mengubah arti dasar dari sebuah kata, dan menyesuaikannya dengan peraturan tata bahasa Jepang.

b. Agama

Shinto (Shintō diserap dari bahasa mandarin menjadi shin dan tou yang bermakna “jalan/jalur dewa”) merupakan agama resmi yang berasal dari Jepang. Shinto merupakan penyembahan kepada kammi (dewa, roh alam, atau sekedar kehadiran spiritual). kammi merupakan benda-benda dan proses alam, misalnya Amaterasu, sang dewa matahari.

Ajaran Shinto sendiri mengacu pada kepercayaan konfusianisme di China. System kepercayaan yang dianut agama ini animisme karena mempercayai banyak dewa. Shinto melakukan penyembahan pada arwah leluhur/ nenek moyang.
Walau demikian, kami yang paling banyak disembah umat Shinto adalah dewa matahari Amaterasu. Karena itu ajaran agama Shinto pun memuja kaisar Jepang yang dianggap keturunan Amaterasu. Berbeda dengan agama lain, dalam agama Shinto tidak ada ajaran yang pasti, tidak ada tempat ibadah khusus, tidak ada dewa yang benar-benar dianggap paling suci, dan tidak cara khusus untuk menyembah kammi.

Setelah Perang Dunia II, Shinto kehilangan statusnya sebagai agama resmi; sebagian ajaran dan kegiatan Shinto yang sebelumnya dianggap penting pada masa perang ditinggalkan dan tidak lagi diajarkan. Kemudian setelah masuklah agama Budha sekitar abad ke-5. Ajaran agama Budha di Jepang mempercayai dewa mathari atau dikenal dengan nama Amaterasu sebagai dewa tertinggi yang dianggap sebagai penjelmaan Budha Daichi Nyorai. Agama Budha di Jepang yang paling terkenal adalah ajaran Budha Zen yang diserap dari China. Sama seperti agama Budha di seluruh dunia, kitab suci agama Budha di Jepang adalah tripitaka dan tempat ibadahnya adalah kuil. kuil-kuil Shinto mulai dibangun sebagai rumah bagi para kami secara permanent (shaden).

2.4 Sikap orang Jepang terhadap kebudayaan Cina

Hubungan antara Cina dan Jepang secara resmi telah dibuka sejak abad ke-5. Hasil dari hubungan tersebut yaitu banyak kebudayaan Cina yang masuk ke Jepang, seperti: kesusasteraan, ilmu falak, obat-obatan, menenun dan juga agama Budha. Pada permulaan hubungan antara Cina dan Jepang, orang-orang Jepang belum pandai membaca dan menulis. Oleh karena itu, orang Jepang menggunakan orang Korea sebagai perantara, bahkan juga menggunakan orang-orang Cina untuk belajar membaca dan menulis.

Kesusasteraan oleh orang Jepang tidak begitu saja diterapkan seperti aslinya di Cina, tetapi oleh orang Jepang disesuaikan dengan keadaan negerinya (di-Jepang-kan). Sehingga, walaupun mengadopsi kesusasteraan dari Cina, namun berbeda penerapannya atau penggunaannya di Jepang.

Sejak awal hubungan Cina dan Jepang sampai pertengahan abad ke-enam tidak ada permasalahan yang besar. Tetapi setelah itu baru ada permasalahan yang serius dalam menyikapi masuknya agama Budha ke Jepang. Permasalahan itu diawali dengan pertarungan di istana Yamato tentang penerimaan citra dan kepercayaan agama Budha sebagai suatu sistem magis dari kekuasaan yang sama atau mungkin lebih besar dari pada Shinto yang pribumi. Pendukung masing-masing agama tersebut saling bertarung, namun pada akhirnya pendukung agama Budha lah yang menang.

Oleh karena jepang negeri tetangga tiongkok,maka belakulah hukum alam bedanya berhubungan dalam kebudayaan, jadi kebudayaan yang banyak di tioangkok mengalir ke jepang dengan adanya kontak antara kebudayaan jepang dengan kebudayaan cina.hal ini tebukti antara lain bahwa orang jepang mempergunakan cermin dari perunggu.sehingga menimbulkan adanya akulturasi budaya. Karena adanya orang jepang yang bertetangga dengan orang tiongkok,dan mereka juga menyaksikan cara hidup orang tiongkok orang-orang tiongkok,orang jepangpun tertarik oleh cara hidup mereka,karean mereka merasa peradaban mereka sendiri sebagai orang jepang tak setinggi orang tiongkok(tionghoa),sehingga masuklah kebudayaan tionghoa terhadap kebudayaan mereka sehari-hari.

Banyak juga orang jepang yang tertarik bahasa tionghoa dan mereka ada juga yang tertarik mempelajarinya,serta banyak juga buku yang ditulis orang jepang yang menggunakan bahasa tionghoa. Kesuksesan orang tionghoa inimembentang cara hidup bahasa tionghoa di hadapan mata orang jepang dan membuat kebudayaan tionghoa ini akhirnya tidak asing lagi bagi mereka,dan ada juga yang menyesuaikan cara hidupnya dengan cara hidup oang tiongkok.

Orang-orang tionghoa jepang juga mempelajari bahasa tionghoa bukan hanya secara pasif saja,melanikan juga secara aktif.dengan diterimanya kebudayaan tionghoa dijepang tak terelakan konfusianisme menjadi terkenal di jepang. Dan makin lama pengaruh konfusianisme makin mendalam dijepang,orang jepang pun menerima kebudayaan tersebut

Sampai pada abad ke-18,pilihan lain yang seimbang dengan filsafat konfensius ialah filsafat Budha. Karena kedua aliran ini datang melalui Cina, kedudukan utama ajaran Cina tidak mendapat tantangan. Tetapi pada akhir abad ke-18 ada pula ahli piker dari jepang yang menolak kebudayaan cina baik konfisius maupun budha. Yakni gerakan penelitian nasional tau kokugaku.adanya norma-norma kesusilaan konfosius berlawanan dengan orang jepang itu sendiri.adanya ajaran-ajaran cina yang kacau dan penuh kekerasan dan menjual satu jenis tipu daya dan semangat cina,karagokoro,semangat kekerasan dan pembangkang,bukan semangat yang arif dan berbudi.

BAB III

KESIMPULAN

Pengaruh budaya Cina masuk dan berkembang melalui orang – orang Tionghoa yang hidup dan menetap di Jepang, mereka membawa masuk unsur – unsur kebudayaan Tionghoa. Selain kebudayaan, agama, bahasa dan tulisan yang digunakan di Jepang juga mendapat pengaruh dari budaya Cina. Tentang ajaran konfusianisme, Taoisme dan agama Budha yang berkaitan erat dengan kebudayaan Cina sangat terkenal di Jepang. Setelah melihat cara hidup orang Tionghoa, orang Jepang pun merasa tertarik dengan cara hidup mereka.

Orang Jepang dalam menyikapi kebudayaan Cina yang masuk ke Jepang yaitu ada yang menerima, tetapi ada yang menolak. Kebanyakan orang Jepang menerima kebudayaan Cina karena mereka sangat membutuhkan atau menginginkan, misalnya saja membaca dan menulis. Orang Jepang menolak kebudayaan Cina karena mereka menganggap hal itu tidak menguntungkan, dan terlebih lagi apabila kebudayaan tersebut tidak mau berakulturasi dengan kebudayaan setempat.

Jepang berada didalam lingkaran budaya cina, Cina adalah sumber bagi tata aksana jepang,peradaban Cina mengalir ke Jepang yang belum berkembang dan mempengaruhi bentuk budayanya. Jepang berada dalam lingkungan budaya Cina, tetapi dalam hal agama,sajak,dan seni bangsa jepang lebih menyukai agama,sajak,seni aslinya sendiri daripada yang datang dari Cina. Dalam hal pola pemerintahan dan kelembagaan,dan model-model diCina sudah diubah sedemikian rupa sampai tidak dikenal lagi wajah aslinya. Jepang tidak menerima kebudayaan China seratus persen, tetapi hanya sebagian saja karena jepang sudah mempunyai kebudayaan yang cukup kuat.

DAFTAR PUSTAKA

Dasuki, A. 1963. Sedjarah Djepang I. Bandung: Dep. PPK. Djawatan Pendidikan Umum. Balai Pendidikan Guru.

Jansen, M. B. 1983. Jepang Selama Dua Abad Perubahan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press

Lan, Nio Joe. 1962. Djepang Sepandjang Masa. Djakarta: PT. Kinta

Reischauer, E. O. 1982. Manusia Jepang. Jakarta: Sinar Harapan

About these ads

Tentang artantio

saya hanya manusia biasa yang gemar menulis... ^^

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: