//
you're reading...
Sejarah Jepang

KONFLIK POLITIK JEPANG


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jepang yang sangat luas diperintah oleh beberapa kaisar. Kaisar yang pertama adalah kaisar Jimmu pada tahun 660 SM. Pada saat itu terbentuklah Negara Yamato. Setelah kaisar Jimmu kekaisaran Jepang dipegang oleh keturunannya secara turun temurun. Pada kekaisaran ke 10 Jepang, sistem politik pemerintahan telah diatur, telah melakukan hubungan erat dengan Korea. Dan pada masa kaisar Kimmei Budha masuk ke Jepang. Banyak peristiwa-peristiwa yang buruk terjadi didalam maupun diluar negeri itu yang menyebabkan Yamato sangat goyah.
Pada masa Shutoku Taishi sebenarnya dia memiliki banyak cita-cita yang hendak diterapkannya di Jepang, tetapi tidak berhasil semuanya. Setelah Shutoku Taishi wafat dia digantikan oleh Naka-no-Oe dan Fujiwara-no-Kamatari, mereka berhasil mendirikan Negara yang pantas pada saat itu. Mereka melakukan pembaharuan-pembaharuan yang disebut dengan Taikwa. Pembaharuan yang dilakukan adalah mengenai kekayaan dan kekuasaan ditangan beberapa keluarga kuat secara khusus keluarga Soga. Naka-no-Oe dan kawannya menginginkan semua tanah dan rakyat yang dimiliki oleh pribadi diserahkan kepada Negara.
Jepang juga mengalami beberapa konflik sebelum munculnya pemerintahan Shogunat yang dimulai dari adanya wilayah Jepang hingga jaman keluarga Fujiwara yang memegang pemerintahan yang dikenal dengan sistem perwalian. Konflik-konflik tersebut dilatar belakangi perebutan wilayah kekuasaan oleh para Daimyo dan Bakufu. Daimyo merupakan seorang penguasa yang memiliki wilayah yang sangat luas, sedangkan Bakufu merupakan lembaga pemerintah yang militer dan cenderung bersifat feodal ( diktator). Pada makalah ini akan dibahas lebih terperinci restorasi dan konflik-konflik yang terjadi pada masa Shogunat.

B. RUMUSAN MASALAH
Dari penjelasan di atas maka dapat ditarik beberapa permasalahan, yaitu:
1. Apakah sebab dan akibat dari Restorasi Taikwa?
2. Apa saja konflik-konflik yang terjadi sebelum pemerintahan Shogunat?

C. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk :
1. Mengetahui sebab dan akibat dari restorasi Taikwa.
2. Mengetahui konflik-konflik yang terjadi sebelum pemerintahan Shogunat

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sebab akibat Program Restorasi Taikwa
Cita-cita yang dicetuskan oleh Shotoku Taishi tidak semuanya berhasil diterapkan semasa hidupnya tentang didirikannya sistem pangkat resmi dan mulai mendirikan system pangkat resmi dan mulai melaksanakan UUD. Sistem pangkat itu antara lain memberi topi warna tertentu kepada pegawai-pegawaii istana menurut jasa masing-masing. Dengan demikaian pangkat setiap orang menjadi jelas sekali dan sekaligus juga tercipta hierarki resmi. Maksud utama tindakan ini, ialah untuk memperbesar kewibawaan istana, tetapi sekaligus juga untuk mengetahui bakat-bakat pegawai dengan lebih baik, karena yang di tekankan bukan lagi keturunan tetapi kemampuan pribadi.

Bidang politik
Keburukan-keburukan terbesar dalam masyarakat pada masa bangsawan yang bernama Naka-no-Oe dan Fujiwara-no- Kamatori, ialah terpusatnya kekayaan dan kekuasaan ditangan beberapa keluarga yang kuat. Orang-orang biasa yang tidak memiliki tanah untuk digarap tenggelam dalam kemiskinan, khususnya keluarga Soga yang merupakan sumber Menteri-menteri kaisar secara turun-temurun, men ikmati apa yang hampir-hampir merupakan monopoli atas pemerintahan, sedangkan kekuasaannya hampir melebihi kekuasaan keluarga istana.
Teknik penguasaannya adalah dengan menyebut kepala-kepala keluara Fujiwara berturut-turut sebagai wakil kaisar dan mengawinkan puteri-puteri mereka dengan raja-raja dan menjadikan puteranya yang lahir keatas tahta. Hanyalah kaisar-kaisar yang sudah turun tahta, bebas dari beban ritual memerintah yang dapat menentang supremasi Fujiwara, seperti yang dilakukan dengan sangat berhasil dalam abad XI dan abad XII oleh orang yang kebetulan bukan putera dari ibu Fujiwara.
Langkah pertama dalam pembaharuan yang dilakukan oleh pangeran Naka-no-Oe dan kawan-kawannya ialah menjatuhkan kekuasaan Soga. Melalui kudeta dilingkungan istana mereka mulai membentuk pemerintahan baru yang mencontoh pemerintahan cina dinasti Tang. Jaman Taikwa tahun 646 M dikeluarkan dekrit yang mengumumkan pembaharuaan itu dan member garis-garis besar perubahan-perubahan yang akan dilaksanakan dalam pemerintahan Negara.

Akibat
Menurut perubahan itu, semua tanah dan rakyat di seluruh kerajaan ditaruh dibawah kepemilikan langsung pemerintah sebagai tanah umum dan rakyat umum. Propinsi dibagi secara administrative atas tiga(3) macam distrik Kuni, Kori dan Sato. Kuni diperintah oleh gubernur resmi (Kokoshi) yang dikirim dari ibukota, sedangkan Kori dan Sato masing-masing diatur oleh warga setempat yang berpengaruh yang masing-masing disebut Gunji dan Richo.
Sistem pencacatan dan pendaftaran diatur dan nafkah rakyat dijamin dengan pemberian sawah untuk digarap dan system pajak diadakan untuk pertama kalinya. Dahulu tanah itu menjadi milik beberapa keluarga, sehingga bagian terbesar penduduk petani jatuh kedalam suatu keadaan yang menyerupai perbudakandan dengan begitu menimbulkan suatu ancaman bagi kekuasaan pemerintah. Setelah menjadi kepunyaan negeri, tanah dibagi-bagi lagi antara penduduk negeri. Tiap orang pria dan wanitayang berumur lebih dari 6 tahun diberikan sebidang tanah yang sama besarnya untuk mencegah tanah dikuasai oleh beberapa orang tuan tanah dan juga untuk mempersiapkan pertambahan penduduk.
Tanah akan dibagikan juga tiap 6 tahun sekali. pangeran Naka-no-Oe member contoh baik denagan secara sukarela menyerahkan tanah serta rakyat yang dimilikinya kepada Negara. Setelah satu tahun, hasil-hasil yang dicapai para gubernur dilaporkan untuk diperiksa secara ketat dan masing-masing gubernur diberi pujian atau hukuman sesuai dengan perbuatannya supaya kaisar dapat mendengar tentang ketidak puasan dan keluhan rakyat, akibat penindasan disediakan kotak di istana dengan lonceng yang dapat dibunyikan oleh siapa saja sehingga setiap orang bebas untuk mengutarakan pendapatnya secara tertulis atau membunyikan lonceng.
Tanah juga diberikan kepada pegawai-pegawi negeri. Gaji mereka dibayar dengan pendapatan dari tanah mereka dan bukan dengan jalan membebankan pajak kepada petani. Peraturan pajak juga di ubah. Bagian terbesar pegawai-pegawai negeri dibebaskan dari pajak. Percobaan diadakan untuk memungut pajak yang sama besarnya, dari rakyat jelata. Pajak ini dibayar sebagian dengan barang hasil pertanian.
Seantero penduduk negeri, dibagi dalam kelompok dari 5(lima) buah rumah tangga kelompok ini dimasukkan kedalam rombongan dari 50 buah Rumah tangga. Jadi kira-kira sama dengan system yang dipergunakan di Tiongkok. Kelompok itu adalah untuk kepolisian dan pembelaan.
Kaisar Tenchi tidak merasa puas dengan perubahan-perubahan yang telah diadakannya. Mengenai soal hukum mulai diperhatikannya, menurutnya perlu adanya kodefikasi undang-undang dan peraturan-peraturan hukum. Pengkodefikasian UU dan peraturan mulai dilaksanakan, akan tetapi kaisar Tenchi meninggal. Kemudian dilanjutkan kaisar Mommu ketika itu pengkodefikasian baru rampung, dan kumpulan UU hukum itu dikenal kode hukum Taiho.

B. Konflik-konflik politik sebelum Shogunat
1. Konflik dengan Luar Negeri

Semenjak suku Yamato berkuasa di Jepang, ia mulai mengarahkan pandangan ke Korea. Di semanjung itu ada 4 negeri yaitu Kokuli, Silla, Paikche, dan Mimasa. Mulai saat itu Jepang sudah masuk ke Korea Selatan. Jepang mulai mengadakan hubungan persahabatan dengan Paikche dan juga dengan Mimasa. Bahkan tentara Yamato pernah membantu prajurit Paikche dan Mimasa bertempur melawan antara perang Simla dan Kokuli.
Tahun 1562 Jepang di Korea dapat direbut oleh Silla. Perebutan di Korea dimenangkan oleh Silla. Silla telah dapat menaklukkan negeri-negeri yang lain, kecuali Paikche. Negeri Paikche bersahabat dengan kerajaan Tang di Tiongkok. Namun dalam perkembangan selanjutnya Silla menggempur Paikche. Kerajaan Yamato merupakan sahabat Paikche, maka Yamato mengirim tentaranya untuk melawan Paikche. Tentara Tiongkok juga membantu Silla. Maka terjadilah pada saat itu peperangan antara orang Jepang melawan prajurit Tiongkok. Inilah konflik yang pertama dilakukan oleh Jepang keluar negeri. Dalam peperangan ini Paikche dan Jepang mengalami kekalahan, maka pengaruh Jepang di Korea berakhir.
2. Konflik dalam Negeri

a. Konflik antara keluarga Taira dan keluarga Minamoto
Keluarga Taira dan keluarga Minamoto masih teikat sanak dengan kaisar keluarga Taira membantu diistana dan keluarga Minamoto. Keluarga Minamoto melawan pihak istana. Meletuslah perang saudara pada zaman Hogen tahun 1156. latar belakang dari peperangan ini adalah peraduan kekuatan antara keluarga Taira dan Minamoto, karena perang saudara jaman Hogen ini saing berjuang untuk menang. Akhir dari peperangan ini, jatuh ketangan keluarga Taira. Akibat kekalahan keluarga Minamoto, Sutoko melepaskan kedudukannya dan dijatuhi hukuman, sedangkan Fujiwara Yurinaga , dihukum mati. Perang saudara ini tidak berakhir sampai disini, namun meletus kembali pada tahun1159-1160. perang saudara ini disebut (perang saudara) pemerintahan kaisar) Heiji.
Semua anggota keluarga Taira di beri pangkat yang tinggi, selama 20 tahun keluarga Taira menikmati kedudukan, Taira Kiyomori dan kawan-kawannya menjadi kekuatan militer yang utama dalam pemerintahan Jepang. Kepala keluarga peperangan ini mencontoh politik keluarga Fujiwara untuk menguasai kerajaan dengan mengawinkan anak perempuannya kepada kaisar pada saat yang tepat, anak dari puterinya itu menggantikan ayahnya menduduki kerajaan. Dalam pertempuran Minomoto dengan Taira Kiyomori tidak semua keluarga Minamoto tewas sebagian dari antara mereka dapat melarikan diri ke jepang Timur, disini mereka memupuk kekuatan yang sangat besar. Ketika keluarga Minomoto kuat maka mereka menyerang keluarga Taira. Peperangan ini disebut peperangan Gempei selama 6 tahun. Dalam peperangan ini kemenangan jatuh ketangan Minamoto. Dalam pertempuran ini hampir semua pemimpin Taira tewas. Juga kaisar anak-anak Antoku maka musnahah keluarga Taira.

b. Miniatur Tiongkok
Dalam tahun 645 telah dilakukan suatu kudeta oleh satu golongan pada istana Yamato. Dalam kudeta ini pelajar-pelajar Jepang yang menuntut pelajaran di Tiongkok dan kembali ke Jepang kudeta ini berarti meruntuhkan keluarga Soga, yang pada waktu itu berkuasa di kalangan istana Yamato. Soga Iruka dan keluarga Soga tewas karena Pangeran Naka-no-Oe dibantu oleh Nakatomi Kamatari. Pangeran Naka-no-Oe berhasil memusatkan kekuasaan perintahannya.Sejak kudeta ini suku Yamato menjadikan suatu negaranya suatu kerajaan yang menyamai kerajaan Tiongk.

mereka diserang oleh Jenderal Akechi Mitsuhide, akhirnya Hobunaga dan pengikutnya terbunuh sehingga ia hanya berhasil mempersatukan antara distrik Tokai dan Kinai.
Setelah Hobunaga tewas usahanya diteruskan oleh Toyotami Hideyosi yang merupakan seorang Jendral, untuk mempersatukan Negara. Ia seorang samurai yang mengabdi kepada Hobunaga sekalipun ia berasal dari rakyat biasa. Atas perintah Hobunaga ia berperang melawan kaum Mori tetapi setelah mendengar Hobunaga wafat ia kembali. Mengetahui Hobunaga yang terbunuh karena Akechi Mitsuhide maka Hideyosi pun balas dendam melalui peperangan Yamazaki. Kemudian ia mengalahkan Akechi Mitsuhide dan lawan-lawan politiknya seperti Daimyo di Kyushu, Shikoko, Kanto dan wilayah lain sehingga pada tahun 590 ia dapat mempersatukan seluruh wilayah.
Kemudian Hideyosi tewas setelah pertempuran yang berlangsung selama 7 hari dalam rangka mempertahankan dan menjaga hak-hak pedagang Jepang oleh pedagang asing seperti dari Korea dan Cina yang tidak mau membayar pajak (upeti ) kepada pihak Jepang. Dengan wafatnya Toyotomi Hideyosi ini maka roda pemerintahan di teruskan oleh Tokugawa Leyasu, yang diberi nama pemerintahan Ke Shogunat Tokugawa. Dan selama pemerintahannya Bakufu yang merupakan pemerintahan militer yang bercorak feodal dan diktator bangkit kembali setelah 30 tahun terbengkalai karena dominasi para Daimyo.

BAB III
KESIMPULAN

Pada kekaisaran ke 10 Jepang, sistem politik pemerintahan telah diatur, telah melakukan hubungan erat dengan Korea. Dan pada masa kaisar Kimmei Budha masuk ke Jepang. Pada masa Shutoku Taishi sebenarnya dia memiliki banyak cita-cita yang hendak diterapkannya di Jepang, tetapi tidak berhasil semuanya. Setelah Shutoku Taishi wafat dia digantikan oleh Naka-no-Oe dan Fujiwara-no-Kamatari, mereka berhasil mendirikan Negara yang pantas pada saat itu. Mereka melakukan pembaharuan-pembaharuan yang disebut dengan Taikwa. Pembaharuan yang dilakukan adalah mengenai kekayaan dan kekuasaan ditangan beberapa keluarga kuat secara khusus keluarga Soga. Jepang juga mengalami beberapa konflik sebelum munculnya pemerintahan Shogunat yang dimulai dari adanya wilayah Jepang hingga jaman keluarga Fujiwara yang memegang pemerintahan yang dikenal dengan sistem perwalian. Konflik-konflik tersebut dilatar belakangi perebutan wilayah kekuasaan oleh para Daimyo dan Bakufung.

DAFTAR PUSTAKA
Mochtar, lubis, Sedjarah Jepang Dulu dan sekarang, yayasan Obor Indonesia dan UGM- press
Nio Joe LANE, Djepang sepanjang masa, Kinda Jakarta, 1962. Jakarta.
Edwin,o,Reischavir, Manusia Jepang ,Sinar harapan, Jakarta, 1982
Sakamoto, T. Jepang dulu dan Sekarang, yayasan Obor, 1980, Jakarta

About artantio

saya hanya manusia biasa yang gemar menulis... ^^

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: