//
you're reading...
Sejarah Indonesia

REPUBUBLIK INDONESIA KE YOGYAKARTA


Perpindahan Ibu Kota Ke Yogyakarta
• Alasan berpindahnya Ibu Kota Republik Indonesia Ke Yogyakarta
Dalam sejarah Yogyakarta tercatat sebagai kota revolusi atau kota perjuangan. Sejak proklamasi dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945 maka pada tanggal 5 September 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII, menyatakan setia dan berdiri di belakang pemerintah RI.
disamping itu Yogyakarta mempunyai potensi nasionalisme untuk menjaga dan menyelamatkan bangsa dan negara Indoinesia. Hal ini disebabkan karena kota tersebut sarat dengan akar budaya yang kuat untuk mengembalikan semngat kebangsaan yang retak, terkoyak bahkan terancam.
Berpindahnya ibu kota RI pada saat itu dipicu situasi Jakarta yang tidak kondusif untuk menjadi pusat pemerintahan. Saat itu, pasukan sekutu mulai mendarat, sedangkan tentara Jepang belum pergi. Kekacauan ditambah dengan konflik politik yang terjadi antar tokoh dalam negeri sendiri. Sejumlah rencana pembunuhan mengancam para petinggi RI. Saratnya konflik mengakibatkan macetnya roda pemerintahan.
Atas inisiatif dan tawaran Sri Sultan Hamengku Buwono IX, untuk mempersilahkan Pemerintah Pusat hijrah ke kota. Tawaran yang dikirimkan lewat kurir pada 2 Januari 1946 itu disambut baik oleh pemerintah di Jakarta. Maka pada tanggal 4 Januari 1946 Presiden dan Wakil Presdien RI hijrah ke Yogyakarta. Pemindahan ibu kota ke Yogyakarta ini berhasil membuat roda pemerintahan yang sebelumnya macet menjadi berjalan kembali. Tawaran HB IX ini mencerminkan keberanian dan jiwa patriotismenya. Saat itu hanya HB IX saja yang berani menawarkan daerahnya menjadi pusat pemerintahan RI tidak ada pemimpin daerah lain yang seberani itu
• Sumbangsih Keraton Yogyakarta terhadap RI
Setibanya para pemimpin di Yogyakarta, roda pemerintahan langsung digulirkan. Hal ini bisa dilakukan karena tata pemerintahan di Yogayakrta saat itu telah terkoordinasi dan tertata dengan rapi. Hal ini belum tentu bisa dilakukan di daerah lain karena saat itu kondisi di daerah lain belum sebaik dan seamaan Yogyakarta.
Keraton Yogayakarta juga menanggung biaya para pejabat RI selama berada di Yogyakarta. Keuangan RI dalam kondisi sangat buruk. Untuk pembiayaan ini, jumlah yang dikeluarkan oleh Keraton diperkirakan mencapai jutaan gulden. Hal ini juga diikuti rakyat Yogyakarta dengan menyumbangkan tenaga, makanan dan harta benda.
Sumbangsih Keraton Yogyakarta terhadap RI tidak hanya melalau peran aktif Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai menteri negara dan menteri pertahanan, namun juga bantuan materi secara langsung dari keraton dan Puro Pakualaman. Bantuan tersebut mulai dari peralatan rumah tangga sampai gulden Belanda. Istana Kepresidenan (Gedung Agung) setelah ditinggalkan Jepang tidak terdapat peralatan rumah tangga. Oleh kareta itu Keraton Yogyakarta memberikan berbagai peralatan secara lengkap. Untuk melanjutkan perjuangan RI mengusir Belanda melalui perlawan fisik, keraton memberikan setidaknya 1440 pucuk senjata api kepada pasukan RI. Keraton Yogyakarta juga menyumbangkan senjata-senjata tajam seperti tombak.
• Dinamika politik di Yogyakarta seiring dengan perpindahan Ibu Kota RI ke Yogyakarta.
Presiden Soekarno membentuk kabinet Syahrir I (14 November 1945-12 Maret 1946), Kabinet Syahrir II (12 Maret-2 Oktober 1946), dan cabinet Syahrir III (2 Oktober 1946 – 27 Juni 1947). Pernyataan gelagat bahawa Belanda tidak mau berunding dengan Soekarno adalah salah satu faktor yang mendorong Soekarno memilih Sutan Syahrir untuk mendukung diplomasi. Sutan Syahrir yang seorang sosialis dianggap sebagai figure yang tepat untuk dijadikan ujung tombak diplomatic, bertepatan dengan naik daunnya parta sosialis di Belanda.
• Usaha-usaha yang dilakukan Republik Jogja dalam mempertahankan kemerdekaan.
selama periode masa Republik Jogja, perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga berlangsung dengan gencar dan efektif, baik dalam bentuk gerilya maupun perundingan. Pada periode ini pula Yogaykartaa dengan jiwa kemerdekaannya memegang peran penting dalam mempertahakan kelangsungan RI. Dalam masa itu pula, terjadi beberapa peristiwa penitng yang diprakarsai dari tokoh-tokoh fi Yogyakarta. Diantaranya , pengakuan kerajaan Bealnda terhadap keberadaan RI dalam Konferensi Meja Bundar. Sebelumnya, dunia Internsaional dikejutkan dengan serangan umum satu Maret di Yogyakarta.

DAFTAR PUSTAKA
Wiharyanto, A.K. 2009. Sejarah Indonesia Baru II. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma

About artantio

saya hanya manusia biasa yang gemar menulis... ^^

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: