//
you're reading...
Sejarah Amerika

KEPENTINGAN EKONOMI AMERIKA SERIKAT DI ASIA TENGGARA


Kepentingan ekonomi Amerika Serikat di Asia Tenggara

Asia Tenggara merupakan kawasan yang sangat diuntungkan oleh letaknya yang strategis. Posisi Asia Tenggara tepat di persimpangan antara konsentrasi industri, teknologi dan kekuatan militer di Asia Timur laut ke utara, sub-kontinental dan sumber-sumber minyak di Timur Tengah ke Timur, dan Australia ke selatan.
Secara ekonomi Asia Tenggara merupakan bagian perdagangan dengan volume yang tinggi dari negara Jepang, Korea, Taiwan, dan Australia, termasuk impor minyak, transit Sea-lanes of Communications (SLOCs) negara-negara tersebut di Asia Tenggara. Sedangkan dalam perspektif militer, jalur laut Asia Tenggara sangat penting untuk pergerakan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat dari Pasifik Barat ke Samudra Hindia dan Teluk Persia.
Dengan jumlah penduduk yang sangat besar secara otomatis Asia Tenggara merupakan pasar yang luas tidak hanya untuk produk tetapi juga bagi industri jasa Amerika Serikat. Asia Tenggara adalah patner ekspor sekaligus patner impor Amerika Serikat. Selain itu, Asia Tenggara juga merupakan kawasan tujuan bagi investasi tidak juga untuk ketidakstabilan kawasan ini akan menciptakan konsekuensi yang sangat besar terhadap Asia Timur secara menyeluruh dan pada akhirnya dapat mengancam kepentingan vital Amerika Serikat.
1. Patner Ekspor Impor
Asia Tenggara merupakan patner perdangangan lima terbesar bagi Amerika Serikat. Meskipun Asia Tenggara mengalami stagnansi ekonomi sejak 1997-1998, Amerika Serikat melihat Asia Tenggara masih dapat terus bertahan dan menyelesaikan krisis tersebut. Sehingga Asia Tenggara diyakini sebagai kawasan yang memiliki prospek jangka panjang bagi kepentingan ekonomi Amerika Serikat ke depan.
Sekitar tahun 1993-1997, Asia Tenggara merupakan tujuan ekspor Amerika Serikat yang cukup penting setelah Cina dan Jepang di kawasan Pasifik. Namun ekspor Amerika Serikat ke Asia Tenggara turun sekitar 20% pada saat kawasan ini mengalami krisis finansial, akan tetapi perdagangan kembali diperhitungkan ketika Asia Tenggara mulai bangkit dari krisis. Asia Tenggara juga sebagai kawasan tujuan investasi langsung Amerika Serikat, bahkan melebihi Jepang dan Brazil pada tahun 1997.
Perkembangan kawasan Asia Tenggara mengalami krisis ekonomi sejak 1998 sangat mempengaruhi kemampuan impor dari Amerika Serikat. Bahkan pada pertengahan 2002, ekspor Amerika Serikat ke ASEAN turun sebanyak 7% dibandingkan satu tahun sebelumnya. Diantara negara-negara ASEAN, hanya Laos, Malaysia dan Vietnam yang menigkatkan pembelian produk Amerika Serikat di tahun 2002. Sementara Malaysia memperlihatkan peningkatan ekspor dari Amerika Serikat sebesar 12% , negara-negara ASEAN lainnya justru mengalami kemunduran. Singapura berkurang -7%, Indonesia -9%, Filipina -11% dan Thailand turun -29% dibanding satu tahun sebelumnya.
Kegiatan ekspor-impor Amerika Serikat dengan negara-negara ASEAN memang mengalami penurunan volumenya antara 1997-1999 akibat krisis yang dialami kawasan ini. Namun perlahan menunjukkan peningkatan antara 2000-2001. Akan tetapi peristiwa 11 September 2001 kembali mengganggu stabilitas roda perekonomian dunia, sehingga kerjasama perdagangan kembali mengalami penurunan di tahun 2002.
2. Pasar produk dan industri jasa
Jumlah penduduk Asia Tenggara yang signifikan merupakan salah satu faktor yang mendukung kawasan ini potensial untuk penasaran produk-produk indutri Amerika Serikat, termasuk Industri jasa Amerika Serikat. Tingkat pertumbuhan perekonomian Asia Tenggara secara umum masih rendah, sehingga kemampuan dalam membangun industri tergolong lemah. Hal ini sangat menguntungkan negara industri seperti Amerika Serikat untuk masuk pasar Asia Tenggara. Dimulainya pasar bebas juga memberikan kemudahan bagi Amerika Serikat dalam hal ini.
Setelah Jepang, perusahaan-perusahaan Amerika Serikat termasuk urutan kedua terbesar yang berinvestasi di Asia Tenggara. Sebagian besar kekayaan Amerika Serikat bergantung pada perusahaan-perusahaan multinasional yang juga memiliki kepentingan signifikan di Asia Tenggara. Perusahaan-perusahaan Amerika Serikat menyebar luas di Kawasan ini, meliputi industri manufaktur (Ford, General Motors, Honeywell, Intel, dan sebagainya) , departement strores (K-mart, JC Penney, Federal Dept.Strores), industri energi (Exxon Mobil, Unocal, Freeport, Newmont Minning, Eron, dll), industri jasa (UPS, FedEx, American International Groups, Citigroup, grup hotel, dll), dan lain sebagainya. Asia Tenggara juga merupakan supplier utama elektronik dan semikonduktor chip untuk perusahaan-perusahaan telekomunikasi Amerika Serikat seperti Motorola.
3. Investasi Asing
Asia Tenggara juga merupakan tempat utama investasi luar negeri Amerika Serikat. Hal ini dapat diukur dari nilai investasi Amerika Serikat ke negara-negara ASEAN yang sangat besar dibandingkan dengan negara-negara investor lainnya. Beragamnya sektor investasi di ASEAN yang tersedia meningkatkan signifikasi ekonomis kawasan ini bagi Amerika Serikat.
Kerjasama-kerjasama ekonomi dengan Amerika Serikat terus mengalami peningkatan. Meskipun dalam perkembangannya investasi asing di kawasan ini secara umum agak tertinggal dibandingkan dengan kawasan Asia Timur. Akan tetapi dalam beberapa sektor, baik secara ekonomi, politik dan strategis Asia Tenggara tetap penting. Asia Tenggara merupakan pasar yang potensial bagi produk dan industri jasa, dan sebagai kawasan utama dari sumber-sumber daya alam yang penting, termasuk minyak dan gas alam.
Salah satu sektor investasi penting lainnya di Asia Tenggara adalah sumber daya alam. Negara-negara ASEAN secara kolektif merupakan kawasan dengan sumber energi, dan kekayaan alam dunia yang besar, seperti timah, tembaga, emas, dan sumber-sumber yang dapat diperbaharaui seperti karet, kopi, serta kayu-kayuan. Hasil bumi seperti minyak dan gas juga terhitung dalam jumlah yang tidak sedikit. Di Indonesia misalnya, investasi Amertika Serikat tidak kurang dari 20 Milyar dolar untuk tambang emas di Papua. Sedangkan industri minyak di Aceh yaitu Exxon dan Mobil.
Bagaimanapun negara-negara Asia Tenggara menggantungkan pertumbuhan ekonomi salah satunya pada investasi asing. Sehingga kesejahteraan ekonomi, sosial, peningkatan pendidikan serta program pengurangan kemiskinan, juga tergantung pada investasi asing. Krisis finansial yang dialami pada dekade sebelumnya menyebabkan stimulasi perpindahan dalam produksi dari tekstil, industri makanan, manjadi obat-obatan, mesin-mesin perlengkapan, dan elektronik. Pada tahun 1999 ke 2000 terjadi penurunan yang cukup kentara, dimana krisis finansial dan situasi keamanan yang tidak kondusif di Asia Tenggara menyebabkan investor Amerika Serikat beralih ke Cina.
Adanya proyek perencanaan pembangunan jaringan pipa untuk saluran gas alam yang akan melintasi negara-negara Asia Tenggara menambah pentingnya kawasan ini untuk investasi Amerika Serikat. Meskipun APEC belum memberikan respon terhadap proposal Amerika Serikat untuk jaringan pipa tersebut, saluran-saluran baru telah direncanakan untuk dibangun diantara negara-negara ASEAN. Contohnya pipa saluran air Indonesia dari pulau Natuna ke Sumatera, pipa saluran Singapura dan Malaysia, dan pipa yang menghubungkan Burma dan Thailand. Kebutuhan gas yang terus meningkat memberikan kecenderungan perkembangan pipa saluran ini akan terus berkembang, bahkan mungkin sampai ke kawasan Cina Selatan.
4. Jalur laut (Sea-lanes) Asia Tenggara yang strategis
Posisi Asia Tenggara terbentang di persimpangan dua jalur laut terbesar di dunia. Yang pertama adalah jalur Timur-Barat, yaitu jalur yang menghubungkan Samudera Hindia dengan Samudera Pasifik. Kedua adalah jalur Utara-Selatan, yang menghubungkan kawasan Asia Timur dengan Australia dan New Zealand serta pulau disekitarnya.
Tiga “pintu masuk” kawasan Asia Tenggara: Selat Mlaka, Selat Sunda dan Selat Lombok merupakan titik penting dalam sistem perdagangan dunia. Menjadi sama pentingnya karena perselisihan politis dan ekonomis mengenai jalur laut yang melintasi kepulauan Spartly di Laut Cina Selatan. Selat Malaka sendiri merupakan selat yang menghubungkan samudera Hindia dengan samudera Pasifik, sekaligus seabgai jalur terpendek yang terletak diantara India, Cina dan Indonesia, Oleh karenanya selat ini dianggap sebagai “chokepoints” Asia.

Secara garis besar ada dua kepentingan Amerika Serikat di Asia Tenggara berkaitan dengan letaknya yang strategis:

• Asia Tenggara membuka garis laut, karena sebagian besar perdagangan dunia melewati selat Malaka.

• Asia Tenggara penting sebagai pos untuk pergerakan kehadiran militer Amerika Serikat di Pasifik Barat dan Samudera Hindia.
Asia Tenggara secara geopolitik sanagt krusial tidak hanya untuk kepentingan nasional Amerika Serikat, tetapi juga secara global. Jalur laut yang melintasi kawasan Asia Tenggara mempunyai fungsi yang vital bagi ekonomi Jepang dan Republik Korea, Cina dan termasuk juga Amerika Serikat sendiri.
Selat Malaka, yang melintasi Singapura, Indonesia dan Malaysia merupakan salah satu jalur laut tersibuk di dunia. Lebih dari 50.000 kapal per tahunnya transit di selat Malaka, padahal lebar selat ini hanya 1,5 mil dengan kedalaman 19,8 meter. Atase komunikasi Indonesia Yuri Gunadi memperkirakan setiap hari sekitar 10000 kapal masuk ke Singapura yang melintasi selat Malaka, diantaranya 4000 kapal dagang dari Indonesia.
Kapal-kapal yang melintasi selat Malaka ini merupakan 1/3 bagian dari perdagangan dunia. Berdasarkan catatan Energy Information Administration (EIA), minyak bumi yang dibawa kapal-kapal tanker melalui selat malaka adalah 11 juta barel per hari.
Letak Asia Tenggara yang sangat strategis berdasarkan jalur ini, tentu saja menempatkan Asia Tenggara sebagai kawasan yang sangat penting baik ekonomi maupun keamanan. Oleh karena itu, Amerika Serikat memiliki kepentingan-kepentingan untuk akses bebas dan terbuka di jalur di Asia Tenggara, baik untuk kepentingan ekonomi (proseprity) maupun militier (national security)

b. Kepentingan Politik
Jumlah penduduk yang besar, kondisi sosial budaya yang beragam, sistem pemerintahan yang cenderung lemah, serta krisis ekonomi yang masih belum pulih, adalah gambaran kondisi aktual yang dialami sebagian besar negara Asia Tenggara, secara tidak langsung mempengaruhi kepentingan-kepentingan Amerika Serikat.
Terdapat beberapa kepentingan Amerika Serikat secara politis di kawasan ini. Terutama terhadap Indonesia, sebagai negara keempat terbesar di dunia, dengan kumunitas muslim yang terbesar di seluruh dunia, negara eksportir minyak dan gas terbesar di kawasannya, serta satu-satunya negara Asia Tenggara yang menjadi anggota Organiziation of Petroleum Exploring Countries (OPEC) dan merupakan titik tumpu ASEAN.
Sebagai negara eksportir minyak dan gas terbesar di Asia Tenggara, Amerika Serikat harus memiliki hubungan yang baik dan stabil dengan Indonesia. Bagaimanapun juga kebutuhan energi Amerika Serikat yang sangat besar dan Indonesia salah satu sumber pemenuhan kebutuhan tersebut. Sementara sebagai satu-satunya anggota OPEC di Asia Tenggara, Indonesia tentu saja memilki peran dalam mengontrol harga minyak. Setidaknya ikut serta dalam pembuatan kebijakan yang berkenaan dengan minyak. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi Amerika Serikat untuk tidak memperhitungkan Indonesia dalam hal ini.
Selanjutnya dengan penduduk muslim terbesar, Indonesia menjadi pemain kunci dalam keterikatan Amerika Serikat terhadap dunia Islam. Ketika Amerika Serikat memiliki kepentingan untuk meyakinkan dunia bahwa ”war against terrorism” bukan sebuah perlawanan terhadap Islam, maka dukungan negara yang mayoritas berpenduduk muslim moderat seperti Indonesia menjadi sangat penting.

About artantio

saya hanya manusia biasa yang gemar menulis... ^^

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: