//
you're reading...
Sejarah Amerika

Tindakan-tindakan Polisional yang Dilakukan oleh Amerika Serikat di Asia Tenggara


Tindakan-tindakan Polisional yang Dilakukan oleh Amerika Serikat di Asia Tenggara
 Masalah Global Warming (Pemanasan Global)
Global Worming adalah dimana suhu atau temperatur rata-rata bumi (litosfer, hidrosfer dan atmosfer mengalami peningkatan atau dengan kata lain bumi semakin panas. Pemanasan global penyebab salah satunya adalah efek rumah kaca. Efek rumah kaca adalah rusaknya lapisan ozon di atmosfer bumi, yang disebabkan karena tingginya konsentrasi gas rumah kaca di lapisan atmosfer bumi akibat dari pencemaran udara. Pemanasan global disebabkan karena adanya gas rumah kaca (CO2, CFC, Aerosol, HFC, N2O, CH4 dan lain-lain) yang merupakan limbah yang dihasilkan dari pabrik, kendaraan bermotor dan penebangan hutan secara liar yang dilakukan oleh manusia.
Gas rumah kaca tersebut merusak atmosfer bumi kusunya lapisan ozon (lapisan pelindung bumi dari radiasi salah satunya radiasi matahari, akibatnya radiasi matahari yang menghujani bumi tidak dapat dipantulkan kembali ke luar angkasa, dan radiasi matahari kembali menghujani bumi. Konsekuensinya suhu pemukaan bumi melalu peningkatan. Akibat dari pemanasan global, iklim bumi mengalami perubahan yang ekstrim sehingga musim tidak menentu dan sering terjadi hujan lebat yang mengakibatkan banjir. Karena suhu bumi mengalami peningkatan maka penguapan yang terjadi di laut semakin tinggi sehingga memicu terjadinya angin topan. Akibat lain dari pemanasan global adalah mulai mencairnya lapisan es di kutub utara maupun selatan. Apabila lapisan es semakin mencair maka suhu bumi akan semakin panas dan tentu saja hal ini akan membahayakan umat manusia. Selain itu rusaknya lapisan ozon mengakibatkan semakin minimnya perlindungan bagi bumi, akibatnya radiasi matahari akan mengenai manusia secara frontal sehingga membahayakan kesehatan manusia. Akibatnya manusia akan megalami gangguan kesehatan seperti kangker kulit, kebutaan, penyakit-penyakit tropis (malaria, demam berdarah), penyakit pernafasan dan lain-lain.
Pemanasan telah menjadi masalah internasional. Negara-neara industri maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa sebagai negara-negara penghasil limbah industri berupaya mengatasi masalah pemanasan global. Upaya yang dilaukan yaitu dengan mengadakan berbagai pertemuan, antara lain:
1. Eart Summit
Pertemuan tersebut dihadiri oleh 150 negara. Isi dari pertemuan tersebut untuk menghadapi masalah gas rumah kaca dan bertujuan untuk menterjemahkan maksud ini untuk suatu perjanjian yang mengikat.
2. Kyoto Treaty
Pertemuan tersebut diadakan di kota Kyoto Jepang pada bulan Desember 1997. pertemuan tersebut dihadiri oleh 160 negara untuk merumuskan beberapa persetujuan, adapun isi tersebut adalah:
a. Menegosiasikan isu-isu yang belum terselesaikan seperti peraturan metode dan pinalti yang masih diterapkan disetiap negara untuk memperlambat emisi gas rumah kaca.
b. Para negosiator merancang sistem dimana suatu negara yang memiliki program pembersihan yang sukses dapat mengambil keuntungan dengan menjual hak polusi yang tidak digunakan untuk negara lain.
c. Protokol Pyoko tahap pertamanya akan selesai peda tahun 2012 pada kenyataannya Protokol Pyoto menuai kritik dari berbagai kalangan, karena Protokol tersebut dinilai terlalu lemah. Bahkan apabila perjanjian tersebut dilaksanakan, ia hanya sedikit mengurangi konsentrasi gas rumah kaca, maka perlu dilakukan pertemuan lanjutan sebagai follow up (tindak lanjut) pertemuan yang sudah dilakukan sebelumnya.
3. pertemuan di Bali (Indonesia)
pertemuan tersebut dilaksanakan pada tanggal 17 Desember 2007, dihadiri oleh 180 negara dan menelan anggaran sebesar Rp.29 milliar. Dalam pertemuan tersebut ditemukan beberapa kesepakatan yang disebut Bali Mandate yang berisi antara lain:
a. Negara-negara yang hadir dalam pertemuan tersebut harus bersedia menurunkan emusi gas rumah kaca pada tahun 2020.
b. Pemberian ruang yang cukup bagi negara-negara berkembang untuk ikut mengontrol negara-negara maju, dalam memenuhi kewajiban mengurangi emisi gas rumah kaca di negaranya.
c. Protokol Pyoto tidak bolek kembali memberi ruang gerak bagi toleransi terhadap ketamakan negara-negara maju dalam mengkomsumsi energi fosil.
4. forum diskusi mengenai perubahan iklim yang diadakan di Bangkok Thailand pada tanggal 1 April 2008, forum tersebut dihadiri oleh delegasi dari 163 negara. Tujuan forum tersebut antara lain:
a. Menyimpulkan kesepakatan perubahan iklim yang baru menjelang Desember 2009 utuk mengendalikan pencemaran rumah kaca.
b. Menuntut negara industri agar menyediakan dana yang mereka perlukan untuk melakukan langkah adaptasi menghadapi pemanasan global dan mengatasi pencemaran karbon akibat kegiatan ekonomi yang dilakukan negara-negara maju.
c. Menuntut negara-negara maju untuk mengambil langkah pertama tidak hanya untuk mengurangi emisi, tetapi juga aktif membantu negara berkembang untuk beradapsi dengan meningkatnya gas rumah kaca.
d. Rencana PBB menyediakan dana adaptasi sebesar 300 juta US Dollar per tahun dan 1,5 milliar US Dollar per tahun, bila tercapai kesepakatan iklim internasional untuk menyukseskan Protokol Kyoto, yang tahap pertamanya akan berakhir pada tahun 2012.

Tindakan-tindakkan polisional Amerika Serikat dalam kasus Global Warming.
Lagi-lagi Amerika Serikat menerapkan tindakan polisionalnya terhadap kasus global warming, Amerika Serikat disatu sisi selalu menekankan pentingnya melestarikan lingkungan dan menangani masalah global warming, tetapi disisi lain Amerika Serikat menjadi salah satu tersangka utama penyebab global warming. Ameika Serikat yang notabene distibutor gas rumah kaca mengambil kebijakan yang cenderung kontra produktif dalam kasus global warming.
Pada tahun 2001 George Bush mengumumkan bahwa implementasi Protokol Kyoto akan menelan biaya yang cukup besar. Alasan tersebut mendorong Amerika Serikat untuk tidak meratifikasi Protokol kyoto, padahal 186 negara telah menyepakati untuk meratifikasi Protokol kyoto, sedangkan Amerika Serikat telah mangkir. Kebijakan Amerika Serikat untuk tidak meratifikasi Protokol Kyoto karena alasan ekonomi, sebab jika Amerika Serikat meratifikasi Protokol Kyoto maka Amerika Serikat harus mengeluarkan biaya yang besar untuk melaksanakan Protokol tersebut. Padahal yang kita ketahui bahwa Amerika Serikat sebagai salah satu negara industri terbesar di dunia dan merupakan negara kontributor terbesar gas rumah kaca yang dihasilkan industri di Amerika Serikat.

 Masalah Terorisme
Sembilan hari setelah serangan 11 September 2001 Presiden Bush dalam pidatonya didepan Kongres menyatakan perang terhadap teroris Internasional dan mengatakan akan menggunakan seluruh kekuatan nasional Amerika untuk membasmi Jaringan teroris beserta negara-negara yang mendukungnya tetapi akan membantu sepenuhnya negara-negara yang bergabung dengan Amerika untuk memerangi terorisme. Pernyataan ini mengingatkan pada situasi politik luar negeri Amerika seperti pada masa Doktrin Truman di tahun 1947, dan di awal era Perang Dingin.
Jatuhnya Afganishtan yang dianggap oleh Amerika bersama dengan sekutu-sekutu lamanya sebagai “sarang teroris” dan “rumah Al Qaeda” tidak membuat Amerika tenang, mereka percaya jaringan-jaringan teroris masih akan terus mengusik mereka. Mereka hanya memenangkan sebuah pertempuran belum memenangkan perang. Jaringan teroris ini diyakini bersembunyi diseluruh pelosok dunia, sehingga bukan pekerjaan mudah bagi Amerika untuk melacaknya. Selama sembilan bulan setelah serangan 11 September 2001 dengan memanfaatkan koordinasi seluruh kekuatan lembaga nasional Amerika yang ada seperti; Dewan Keamanan Nasional (NSA), Badan Intelejen Pusat (CIA), Departermen Pertahanan (USDF), Departermen Luar Negeri, dan lainnya Presiden Bush telah melakukan berbagai tindakan dalam kampanye anti terorisnya baik dalam penggunaan kekuatan militer maupun jalur diplomasi.Disini ada yang menarik dari salah satu strategi Bush di bidang diplomasi, yaitu mengirim utusan – utusan strategisnya ke negara-negara Asia Tenggara.
Setelah sebelumnya Amerika banyak melakukan diplomasi ke negara-negara Arab, Asia Selatan dan Timur dalam kampanye Counter Terrorism nya seperti India, Pakistan, RRC, Korea Utara, Korea Selatan kini Amerika tertarik untuk membuat konsensus bersama negara-negara Asia Tenggara, mengenai isu tersebut. Amerika mulai merasakan bahwa hegemoninya dikawasan ini mulai terganggu, mereka mulai khawatir dengan maraknya demonstrasi anti Amerika beberapa negara di kawasan ini bahkan Presiden Malaysia Mahatir Mohammad pernah menyatakan ketidaksukaannya secara langsung terhadap serangan Amerika plus sekutunya ke Afganistan yang dianggap Mahatir sebagai invasi yang melanggar kedaulatan suatu negara ditambah lagi dengan ditemukannya serangan udara yang salah sasaran oleh Amerika plus Sekutu ke Afganistan. Namun ketegangan ini tidak berlangsung lama karena beberapa bulan kemudian latihan perang gabungan antara Malaysia dengan Amerika digelar di Malaysia, setidaknya ini dapat mencairkan hubungan kedua negara. Sedangkan di Indonesia juga sempat terjadi sweeping warga Amerika oleh kelompok Islam garis keras, ditambah lagi dengan demonstrasi anti Amerika di Kedubes Amerika dan Konsulatnya di Indonesia, terakhir maraknya perekrutan laskar jihad untuk membantu Afganistan, walaupun yang berhasil tiba di Afganistan hanya sebanyak 2 warga Indonesia itupun hingga kini belum jelas dari mana asal keberangkatan mereka. Sedangkan di Filipina ratusan warga Mindanao berdemonstrasi menuntut agar Presiden Arroyo mengeluarkan kecaman terhadap aksi militer Amerika ke Afganistan.
Negara-negara Asia Tenggara sebagian besar merupakan negara dibawah pengaruh politik depedensinya namun Amerika tetap merasa khawatir dan terganggu dengan reaksi yang terjadi dinegara – negara tersebut terhadapnya. Untuk mencegah terjadinya efek domino dikawasan tersebut inilah mungkin yang memaksa Amerika mengerahkan diplomasinya kesana. Selain itu juga mempunyai kepentingan untuk menyatukan visi negara-negara Asia tenggara agar sesuai dengan konsep kampanye anti teroris Amerika. Hal ini dipandang perlu oleh mereka karena visi Asia Tenggara dalam memberantas teroris belum tentu sama seperti Amerika. Seperti contohnya asumsi mengenai pelaku teroris yang selama ini diidentikkan dengan gerakan Islam di dunia oleh Amerika ditentang oleh sebagian negara-negara Asia Tenggara. Bulan Agustus 2002 Menlu Collin Powell menghadiri pertemuan dengan Forum Regional ASEAN (ARF) yang dibentuk oleh negara- negara ASEAN untuk menanggulangi ancaman teroris internasional, dimana pada pertemuan sebelumnya negara-negara ASEAN dalam ARF menolak beberapa butir kesepakatan yang ditawarkan Amerika dalam kerjasama pertahanan, meski demikian hal tersebut belumlah hasil final dari misi diplomasi Powell disana.
Di berbagai penjuru dunia, tak hanya di Asia Pasifik, banyak negara sangat serius menyimak ancaman Amerika Serikat untuk mengancurkan terorisme, baik didorong oleh motif solidaritas terhadap Amerika Serikat (yang terserang teror) maupun terpaksa melakukannya karena tekanan politik Amerika.
Banyak negara Asia Pasifik mengadopsi UU Anti-Terorisme yang cenderung “notorious”, termasuk negara-negara di Asia Tenggara, kecuali Malaysia dan Singapura yang lama telah menerapkan Internal Security Act, mirip UU Anti-Subversi di Indonesia dulu. Indonesia pun belakangan ini membuat Perpu Anti-Teroris setelah Teror di Bali.

Daftar pustaka:

http://eh.web.id/reformulasi-diplomasi-amerika-di-asia-tenggara.

About artantio

saya hanya manusia biasa yang gemar menulis... ^^

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: