//
you're reading...
Sejarah Pendidikan

AKULTURASI DAN INKULTURASI


Asal-Usul dan Arti Istilah

Walaupun kata “inculturatio” tidak terdapat dalam bahasa Latin klasik, jelaslah istilah tersebut berasal-usul dari bahasa Latin. Dibentuk dari kata depan in (menunjukkan di mana sesuatu ada/berlangsung: di(dalam), di(atas) atau menunjukkan ke mana sesuatu bergerak: ke, ke arah, ke dalam, ke atas); dan kata kerja colo, colere, colui, cultum (= menanami, mengolah, mengerjakan, mendiami, memelihara, menghormati, menyembah, beribadat). Dari kata kerja ini berasal kata benda cultura (=pengusahaan, penanaman, tanah pertanian; pendidikan, penggemblengan; pemujaan, penyembahan); tampaknya dari gabungan semua arti tersebutlah kata cultura mendapatkan arti kebudayaan. Maka “inculturatio” secara harafiah berarti “penyisipan ke dalam suatu kebudayaan”.

Dalam antropologi kebudayaan terdapat dua istilah tehnis yang berakar kata sama, yaitu ‘akulturasi’ dan ‘enkulturasi’. ‘Akulturasi’ sinonim dengan ‘kontak-budaya’, yaitu pertemuan antara dua budaya berbeda dan perubahan yang ditimbulkannya. Sedangkan ‘enkulturasi’ menunjuk pada proses inisiasi seorang individu ke dalam budayanya.

‘Inkulturasi’ sebagai proses pengintegrasian pengalaman iman Gereja ke dalam suatu budaya tertentu, tentu saja berbeda dari ‘akulturasi’. Perbedaan itu pertama-tama terletak di sini, bahwa hubungan antara Gereja dan sebuah budaya tertentu tidak sama dengan kontak antar-budaya. Sebab Gereja “berkaitan dengan misi dan hakekatnya, tidak terikat pada suatu bentuk budaya tertentu”. Kecuali itu, proses inkulturasi itu bukan sekedar suatu jenis ‘kontak’, melainkan sebuah penyisipan mendalam, yang dengannya Gereja menjadi bagian dari sebuah masyarakat tertentu. Demikian juga ‘inkulturasi’ berbeda dari ‘enkulturasi’. Sebab yang dimaksud dengan ‘inkulturasi’ ialah proses yang dengannya Gereja menjadi bagian dari budaya tertentu, dan bukan sekedar inisiasi seorang individu ke dalam budayanya.

 

  1. Pengertian ‘Inkulturasi’

‘Inkulturasi’ ialah: pengintegrasian pengalaman Kristiani sebuah Gereja lokal ke dalam kebudayaan setempat sedemikian rupa sehingga pengalaman tersebut tidak hanya mengungkapkan diri di dalam unsur-unsur kebudayaan bersangkutan, melainkan juga menjadi kekuatan yang menjiwai, mengarahkan, dan memperbaharui kebudayaan bersangkutan, dan dengan demikian menciptakan suatu kesatuan dan ‘communio’ baru, tidak hanya di dalam kebudayaan tersebut, melainkan juga sebagai unsur yang memperkaya Gereja sejagat.

Inkulturasi merupakan wahana pertemuan berbagai budaya yang bersifat 

khas, suatu wacana yang saat ini menarik dikedepankan, terutama pada 

saat kebinekaan kultur Nusantara mulai banyak mendapat sorotan. Dalam tataran praktisnya, inkulturasi merupakan elemen yang membangkitkan sisi-sisi baru pada kebudayaan yang telah tersusun dan hidup selama ratusan tahun. Inkulturasi mendorong kebudayaan berkembang menjadi lebih semarak dan lebih kaya dari yang sebelumnya. 

Dilihat dari pengertian diatas maka penulis mengambil kesimpulan bahwa inkulturasi sendiri merupakan proses terjadinya pertemuan (kontak budaya) antara dua budaya atau lebih (kebudayaan asli/lokal dengan kebudayaan asing), dimana kedua kebudayaan tersebut menyatu dan melebur menjadi, dan membentuk budaya baru.

Oleh Ary Roest Crollius (1984), inkulturasi diterjemahkan sebagai 

proses panjang yang terdiri atas tiga tahapan. Tahap pertama adalah akulturasi, suatu pertemuan budaya di mana budaya dari luar diperkenalkan oleh agen inkulturasi asing. 

Koentjaraningrat (1990) menggaris bawahi hal penting berkaitan dengan 

akulturasi, yaitu bertahannya kedua unsur kebudayaan yang bertemu 

tanpa salah satu mendominasi yang lainnya sehingga menenggelamkan, 

bahkan menghilangkan, kebudayaan yang lebih lemah. 

Tahapan kedua dalam proses inkulturasi adalah asimilasi, di mana dua 

kebudayaan yang bertemu mulai berpadu. Tahapan terakhir adalah 

transformasi, di mana kedua kebudayaan direinterpretasikan terus-menerus ke arah bentuk kebudayaan baru dengan tidak kehilangan identitas dari masing-masing kebudayaan asal.  Tiga unsur yang merupakan tiang penyangga dari kebudayaan suatu komunitas adalah ide, aktivitas, dan artefak. Arsitektur mengambil peranan cukup penting di dalamnya, khususnya dalam peran sebagai artefak yang mewadahi aktivitas sekaligus menyuarakan ide-ide tertentu. 

  1. Wujud Pembaharuan Inkulturasi Islam

Inkulturasi adalah sesuatu yang alamiah sejauh tidak bertentangan dengan prinsip keagamaan, atau mengganggu umat lain. Islam yang mulai masuk Indonesia pada abad XII, tumbuh menjadi kerajaan besar Samudra Pasai pada abad XIII yang berpusat di wilayah Aceh Utara. Ketika itu di Jawa, kerajaan Singosari masih di dominasi agama Syiwa Buddha. Baru pada jaman Majapahit agama Hindu, Buddha serta agama Syiwa Buddha dapat hidup berdampingan dengan damai. Ketika itulah sebenarnya Islam mulai masuk ke Jawa, terutama melalui hubungan kerajaan-kerajaan Jawa dengan Samudra Pasai. Lalu tersebutlah, pasukan Majapahit yang menyerang Samudra Pasai. Setelah Samudra Pasai takluk pulanglah Majapahit dengan membawa “upeti” sebagai tanda taklukan, termasuk beberapa puteri-puteri Pasai, yang sudah pasti memeluk Islam. Puteri jarahan, pada jaman itu diperlakukan dengan sangat terhormat. Mereka boleh membawa juru masak mereka sendiri, penerjemah, juru rias, dan lain-lain, berikut para keluarganya yang semuanya juga muslim.

Di Majapahit, mereka diberi kebebasan menjalankan ibadah, sesuai dengan Syariat Islam. Untuk itu mereka diberi hak untuk membangun pemukiman di sekitar Gresik dan Tuban. Ketika perdagangan makin maju, banyak etnis Cina muslim, Gujarat, Parsi dan juga Arab berdatangan ke Jawa, lalu menginap di pemukiman Komunitas muslim Pasai. Sejak itulah Islam mulai tumbuh di Jepara, Rembang, Lasem, Tuban, dan Gresik.

Karena yang membawa masuk Islam ke tanah Jawa begitu beragam, Sunan Kalijaga, yang paling muda dari sembilan wali penyebar Islam di tanah Jawa, yang juga ber-etnis Cina, merasa kesulitan dalam “meng-Islamkan” orang-orang Jawa. Maka ia meminta beberapa muridnya untuk menaruh gamelan di halaman Masjid dan menabuhnya. Orang-orang pun mulai berdatangan demi mendengarkan alunan gamelan yang dimainkan itu. Lewat gamelan dan Wayang (Hindu) itulah Sunan Kalijaga menyapa dan mengajak mereka memeluk Islam.

Wayang kulit, seperti yang dapat kita nikmati sekarang ini, juga merupakan buah inkulturasi, sebuah karya berupa kompromi. Dalam Islam, manusia tidak boleh dipatungkan atau disimbolkan seperti berupa gambar. Sedang tradisi Hindu dan Buddha adalah mematungkan dewa dan Sang Buddha. Kisah Mahabharata dan Ramayana juga dilukiskan di atas kulit atau kain. Wayang kulit yang ditonton dibalik layar tentu bukan patung, dan juga bukanlah lukisan. 

Bentuk Inkulturasi Pendidikan Islam:

  • Munculnya Madrasah-Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam yang mandiri (awal abad ke-20)

Madrasah merupakan lembaga pendidikan agama Islam yang di dalam kurikulumnya memuat materi pelajaran agama dan pelajaran umum, namun mata pelajaran agama pada Madrasah tetap lebih banyak dibandingkan dengan mata pelajaran agama pada sekolah umum.[1] Madrasah sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam merupakan kelanjutan dari pendidikan dan pengajaran agama Islam sebelumnya, seperti langgar, surau, rangkang, dan pesantren. Dan dapat dikatakan bahwa Madrasah merupakan bentuk atau wujud baru dalam Pendidikan Islam di Indonesia. Misalnya: Madrasah Adabiyah/ Adabiyah School (1907), Madrasah Diniyah/ Diniyah School (1910), dan Sumatera Thawalib (1921).[2]

  1. Pengertian Akulturasi

Sebelum Islam masuk dan berkembang, Indonesia sudah memiliki corak kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha. Dengan masuknya Islam, Indonesia kembali mengalami proses akulturasi yang melahirkan kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam Indonesia. Masuknya Islam tersebut tidak berarti kebudayaan Hindu dan Budha hilang. Bentuk budaya sebagai hasil dari proses akulturasi tersebut, tidak hanya bersifat kebendaan/material tetapi juga menyangkut perilaku masyarakat Indonesia. Namun sebelum menjelaskan lebih lanjut mengenai pembaharuan Islam lewat akulturasi kita harus lebih dahulu mengetahui definisi mengenai akulutrasi.

Ada beberapa pendapat mengenai akulutrasi diantaranya:

  1. Menurut Koentjaraningrat akulturasi adalah perpaduan kebudayaan yang terjadi bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing yang berbeda sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu dengan lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menghilangkan kepribadian kebudayaan sendiri. Sedangkan menurut Sachari[3] akulturasi budaya pada dasarnya merupakan pertemuan wahana atau area dua kebudayaan, dan masing-masing dapat menerima nilai-nilai bawaannya.
  2. Wikipedia, akulturasi adalah Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri.

 

Di dalam akulturasi selalu terjadi proses penggabungan (fusi budaya) yang memunculkan kebudayaan baru tanpa menghilangkan nilai-nilai dari budaya lama atau budaya asalnya. Akulturasi adalah proses jalan tengah antara konfrontasi dan fusi, isolasi dan absorbsi, masa lampau dan masa depan. Ada empat syarat yang harus dipenuhi supaya proses akulturasi dapat berjalan dengan baik:[4]

• Penerimaan kebudayaan tanpa rasa terkejut (syarat persenyawaan/ affinity)

• Adanya nilai baru yang tercerna akibat keserupaan tingkat dan corak budayanya (syarat keseragaman/ homogenity).

• Adanya nilai baru yang diserap hanya sebagai kegunaan yang tidak penting

atau hanya tampilan (syarat fungsi).

• Adanya pertimbangan yang matang dalam memilih kebudayaan asing yang

datang (syarat seleksi)

 

Apabila dilihat dari definisi tentang akulturasi di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa akulturasi adalah proses penggabungan antara dua kebudayaan atau lebih untuk mencari jalan tengah dimana pada kebudayaan baru yang terbentuk tersebut masih dapat ditemukan karakter asli dari unsur-unsur kebudayaan penyusunnya.

 

 

  1. Wujud Pembaharuan lewat Akulturasi Islam

Sebelum Islam masuk dan berkembang, Indonesia sudah memiliki corak kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha seperti yang pernah Anda pelajari pada modul sebelumnya. Dengan masuknya Islam, Indonesia kembali mengalami proses akulturasi (proses bercampurnya dua (lebih) kebudayaan karena percampuran bangsa-bangsa dan saling mempengaruhi), yang melahirkan kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam Indonesia. Masuknya Islam tersebut tidak berarti kebudayaan Hindu dan Budha hilang.

Bentuk budaya sebagai hasil dari proses akulturasi tersebut, tidak hanya bersifat kebendaan/material tetapi juga menyangkut perilaku masyarakat Indonesia. Untuk lebih memahami wujud budaya yang sudah mengalami proses akulturasi dapat Anda simak dalam uraian materi berikut ini.

 

1.

Seni Bangunan

Wujud akulturasi dalam seni bangunan dapat terlihat pada bangunan masjid, makam, istana.

Wujud akulturasi dari masjid kuno memiliki ciri sebagai berikut:

      1. Atapnya berbentuk tumpang yaitu atap yang bersusun semakin ke atas semakin kecil dari tingkatan paling atas berbentuk limas. Jumlah atapnya ganjil 1, 3 atau 5. Dan biasanya ditambah dengan kemuncak untuk memberi tekanan akan keruncingannya yang disebut dengan Mustaka.
      2. Tidak dilengkapi dengan menara, seperti lazimnya bangunan masjid yang ada di luar Indonesia atau yang ada sekarang, tetapi dilengkapi dengan kentongan atau bedug untuk menyerukan adzan atau panggilan sholat. Bedug dan kentongan merupakan budaya asli Indonesia.
      3. Letak masjid biasanya dekat dengan istana yaitu sebelah barat alun-alun atau bahkan didirikan di tempat-tempat keramat yaitu di atas bukit atau dekat dengan makam.

Pertimbangan memadukan unsur–unsur budaya lama dengan budaya baru dalam arsitektur Islam, sudah menunjukkan adanya akulturasi dalam proses perwujudan arsitektur Islam, khususnya di Jawa. Apalagi pada awal perkembangan agama Islam di Jawa dilakukan dengan proses selektif tanpa kekerasan, sehingga sebagian nilai-nilai lama masih ada tetap diterima untuk dikembangkan.

Setelah kerajaan Majapahit runtuh, era baru kerajaan Islam pun mulai muncul di bumi Nusantara. Ajaran Islam yang masuk tanpa kekerasan bersifat terbuka terhadap unsur – unsur kebudayaan lama yang ada. Karena itulah wujud arsitektur Islam, khususnya arsitektur masjid di Indonesia, banyak dipengaruhi oleh faktor sejarah, latar belakang kebudayaan daerah, faktor lingkungan serta adat istiadat masyakakat setempat.

Sebelum membangun Masjid Demak, Sunan Kalijaga berdiri di tengah–tengah lahan tempat masjid akan didirikan sambil merentangkan tangan . Tangan kirinya tertuju ke arah bumi dan tangan kanannya tertuju arah kiblat. Sikap ini dilakukannya dengan maksud, bahwa dalam berarsitektur kita harus memperhatikan kaidah atau nilai yang sudah ada di masyarakat dan memikirkan kaidah baru yang akan dimasukkan. Saat itu, sudah ada adalah kaidah Hindu dan Buddha yang sudah meng-Indonesia dan kaidah Islam merupakan kaidah–kaidah baru yang akan dimasukkan, kaidah–kaidah inilah yang dipadukan dengan baik dalam karya aesitektur Islam sehingga tidak terjadi benturan budaya.

Perkembangan agama Islam di Indonesia makin pesat sejak kekuasaan Kerajaan Majapahit makin Menyurut. Meskipun Majapahit masih bertahan, suasana kerajaan diwarnai pertikaian dan perebutan kekuasaan. Kondisi ini dimanfaatkan oleh bupati–bupati di daerah pesisir yang telah beragama Islam melepaskan diri dan berontak terhadap kekuasaan Majapahit. sekitar 1518, Dipati Yunus yang berkuasa di Demak menyerang Majapahit dan Majapahit harus menerima kekalahan. Menyusul kemudian sisa–sisa wilayah kekuasaan Majapahit di Panarukan membuat perjanjian dengan kerajaan Malaka pada 1528, maka sejak itulah kemegahan dan kejayaan Majapahit tenggelam.

Setelah Kerajaan Majapahit tenggelam era baru kerajaan Islam pun mulai muncul di bumi Nusantara. Ajaran agama Islam yang masuk tanpa kekerasan rupanya juga bersifat terbuka terhadap unsur-unsur kebudayaan lama, yang ada sebelum Islam masuk. Karena itulah wujud arsitektur Islam, khususnya arsitektur masjid di Indonesia, banyak dipengaruhi oleh faktor sejarah, latar belakang kebudayaan daerah, faktor lingkungan serta adat istiadat masyarakat setempat.

Masjid Agung Demak di Jawa Tengah misalnya, mempunyai nilai historis cukup penting berkaitan dengan sejarah perkembangan agama Islam di Jawa. Legenda–legenda muncul dari sejarah perkembangannya yang kemudian menempatkannya pada kedudukan yang keramat bagi masyarakat yang menyakininya. Bangunan masjid ini berdiri di atas lokasi sekitar alun–alun kota Demak. Wujud arsitekturalnya menunjukkan akulturasi kebudayaan Islam dengan kebudayan Hindu saat itu atap bangunannya runcing ke atas dengan tiang–tiang penopang yang besar–besar dan tinggi. Motif–motif hias tiang bangunannya nampak berhubungan dengan kebudayaan Majapahit .

Kemudian pada Masjid Agung–Menara Kudus, pembauran Kebudayaan Hindu dengan kebudayaan Islam nampak jelas. Kekhasan Masjid Agung Menara kudus adalah adanya bangunan menara atau minaret sebagai kelengkapan masjid untuk penyampaian adzan menrut waktu-waktu sholat. Wujud bangunan menara dan adanya wujud bangunan candi inilah yang bersal dari kubudayaan Hindu. Ciri bangunan Hindunya lebih dipertegas dengan konstruksi bangunan yang tersusun dari bahan batu bata dengan pola bangunan kepala (mahkota) – badan kaki. Sedangkan ciri bangunan Islamnya adalah masjid sebagai bangunan induknya.

Penampilan keseluruhan masjid ini merupakan satu kesatuan dalam satu kompleks bangunan. Tetapi uasaha mempersatukan unsur Hindu dan Islam pada Masjid menara Kudus tidaklah dilakukan melalui seleksi ketat, sehingga tampak kurang adanya kesan saling mendukung antara bentuk yang satu dengan bentuk yang lainnya. Hal ini menyebabkan secara arsitektural tidak terlihat kesan menyatu antara unsur candi, bentuk gerbang yang bercorak Majapahit dengan bentuk kubah masjid yang menjadi ciri arsitektur Islamnya.

Selain bangunan masjid sebagai wujud akulturasi kebudyaan Islam, juga terlihat pada bangunan makam. 

Ciri-ciri dari wujud akulturasi pada bangunan makam terlihat dari:

      1. makam-makam kuno dibangun di atas bukit atau tempat-tempat yang keramat.
      2. makamnya terbuat dari bangunan batu yang disebut dengan Jirat atau Kijing, nisannya juga terbuat dari batu.
      3. di atas jirat biasanya didirikan rumah tersendiri yang disebut dengan cungkup atau kubba.
      4. dilengkapi dengan tembok atau gapura yang menghubungkan antara makam dengan makam atau kelompok-kelompok makam. Bentuk gapura tersebut ada yang berbentuk kori agung (beratap dan berpintu) dan ada yang berbentuk candi bentar (tidak beratap dan tidak berpintu).
      5. Di dekat makam biasanya dibangun masjid, maka disebut masjid makam dan biasanya makam tersebut adalah makam para wali atau raja. Contohnya masjid makam Sendang Duwur 

Bangunan istana arsitektur yang dibangun pada awal perkembangan Islam, juga memperlihatkan adanya unsur akulturasi dari segi arsitektur ataupun ragam hias, maupun dari seni patungnya contohnya istana Kasultanan Yogyakarta dilengkapi dengan patung penjaga Dwarapala (Hindu).

 

.

Seni Rupa

Tradisi Islam tidak menggambarkan bentuk manusia atau hewan. Seni ukir relief yang menghias Masjid, makam Islam berupa suluran tumbuh-tumbuhan namun terjadi pula Sinkretisme (hasil perpaduan dua aliran seni logam), agar didapat keserasian, misalnya ragam hias ditengah ragam hias suluran terdapat bentuk kera yang distilir.

Ukiran ataupun hiasan  selain ditemukan di masjid juga ditemukan pada gapura-gapura atau pada pintu dan tiang.

 

3.

Aksara dan Seni Sastra

Tersebarnya agama Islam ke Indonesia maka berpengaruh terhadap bidang aksara atau tulisan, yaitu masyarakat mulai mengenal tulisan Arab, bahkan berkembang tulisan Arab Melayu atau biasanya dikenal dengan istilah Arab gundul yaitu tulisan Arab yang dipakai untuk menuliskan bahasa Melayu tetapi tidak menggunakan tanda-tanda a, i, u seperti lazimnya tulisan Arab. Di samping itu juga, huruf Arab berkembang menjadi seni kaligrafi yang banyak digunakan sebagai motif hiasan ataupun ukiran dan gambar wayang. 

Sedangkan dalam seni sastra yang berkembang pada awal periode Islam adalah seni sastra yang berasal dari perpaduan sastra pengaruh Hindu – Budha dan sastra Islam yang banyak mendapat pengaruh Persia. Dengan demikian wujud akulturasi dalam seni sastra tersebut terlihat dari tulisan/aksara yang dipergunakan yaitu menggunakan huruf Arab Melayu (Arab Gundul) dan isi ceritanya juga ada yang mengambil hasil sastra yang berkembang pada jaman Hindu.

Bentuk seni sastra yang berkembang adalah:

      1. Hikayat yaitu cerita atau dongeng yang berpangkal dari peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk gancaran (karangan bebas atau prosa). Contoh hikayat yang terkenal yaitu Hikayat 1001 Malam, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Pandawa Lima (Hindu), Hikayat Sri Rama (Hindu).
      2. Babad adalah kisah rekaan pujangga keraton sering dianggap sebagai peristiwa sejarah contohnya Babad Tanah Jawi (Jawa Kuno), Babad Cirebon.
      3. Suluk adalah kitab yang membentangkan soal-soal tasawwuf contohnya Suluk Sukarsa, Suluk Wijil, Suluk Malang Sumirang dan sebagainya.
      4. Primbon adalah hasil sastra yang sangat dekat dengan Suluk karena berbentuk kitab yang berisi ramalan-ramalan, keajaiban dan penentuan hari baik/buruk.

Bentuk seni sastra tersebut di atas, banyak berkembang di Melayu dan Pulau Jawa.

 

4.

Sistem Pemerintahan

Dalam pemerintahan, sebelum Islam masuk Indonesia, sudah berkembang pemerintahan yang bercorak Hindu ataupun Budha, tetapi setelah Islam masuk, maka kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu/Budha mengalami keruntuhannya dan digantikan peranannya oleh kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam seperti Samudra Pasai, Demak, Malaka dan sebagainya.

Sistem pemerintahan yang bercorak Islam, rajanya bergelar Sultan atau Sunan seperti halnya para wali dan apabila rajanya meninggal tidak lagi dimakamkan dicandi/dicandikan tetapi dimakamkan secara Islam.

5.

Sistem Kalender

Sebelum budaya Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia sudah mengenal Kalender Saka (kalender Hindu) yang dimulai tahun 78M. Dalam kalender Saka ini ditemukan nama-nama pasaran hari seperti legi, pahing, pon, wage dan kliwon.

Setelah berkembangnya Islam Sultan Agung dari Mataram menciptakan kalender Jawa, dengan menggunakan perhitungan peredaran bulan (komariah) seperti tahun Hijriah (Islam).

Pada kalender Jawa, Sultan Agung melakukan perubahan pada nama-nama bulan seperti Muharram diganti dengan Syuro, Ramadhan diganti dengan Pasa. Sedangkan nama-nama hari tetap menggunakan hari-hari sesuai dengan bahasa Arab. Dan bahkan hari pasaran pada kalender saka juga dipergunakan. Kalender Sultan Agung tersebut dimulai tanggal 1 Syuro 1555 Jawa, atau tepatnya 1 Muharram 1053 H yang bertepatan tanggal 8 Agustus 1633 M.

 

6.Grebeg

Grebeg berasal dari kata “gumrebeg” yang berarti riuh dan ramai. Itu mengambarkan suasana meriah penuh gairah (ghirah) masyarakat sepanjang perayaan Grebeg. Masyarakat Jogja dan kota-kota sekitarnya tumplek di Alun-alun utara Jogja.[5]

 Grebeg adalah upacara adat berupa sedekah yang dilakukan pihak kraton kepada masyarakat berupa gunungan.[6]

Kraton Yogyakarta dan Surakarta setiap tahun mengadakan upacara grebeg sebanyak 3 kali, yaitu Grebeg Syawal pada saat hari raya Idul Fitri, Grebeg Besar pada saat hari raya Idul Adha, dan Grebeg Maulud atau sering disebut dengan Grebeg Sekaten pada peringatan Maulid Nabi Muhammad.[7]

Menilik sejarah, kata “grebeg” berasal dari kata “gumrebeg” yang berarti riuh, ribut, dan ramai. Tentu saja ini menggambarkan suasana grebeg yang memang ramai dan riuh. Gunungan pun memiliki makna filosofi tertentu. Gunungan yang berisi hasil bumi (sayur dan buah) dan jajanan (rengginang) ini merupakan simbol dari kemakmuran yang kemudian dibagikan kepada rakyat.

Pada upacara grebeg ini, gunungan yang digunakan bernama Gunungan Jaler (pria), Gunungan Estri (perempuan), serta Gepak dan Pawuhan.

Gunungan ini dibawa oleh para abdi dalem yang menggunakan pakaian dan peci berwarna merah marun dan berkain batik biru tua bermotif lingkaran putih dengan gambar bunga di tengah lingkarannya. Semua abdi dalem ini tanpa menggunakan alas kaki alias nyeker. Gunungan diberangkatkan dari Kori Kamandungan dengan diiringi tembakan salvo dan dikawal sepuluh bregada prajurit kraton sekitar pukul 10 siang. Dari Kamandungan, gunungan dibawa melintasi Sitihinggil lalu menuju Pagelaran di alun-alun utara untuk diletakkan di halaman Masjid Gedhe dengan melewati pintu regol.

Saat berangkat dari kraton, barisan terdepan adalah prajurit Wirabraja yang sering disebut dengan prajurit lombok abang karena pakaiannya yang khas berwarna merah-merah dan bertopi Kudhup Turi berbentuk seperti lombok. Sebagai catatan, prajurit Wirabraja memang mempunyai tugas sebagai “cucuking laku”, alias pasukan garda terdepan di setiap upacara kraton. Kemudian ketika acara serah terima gunungan di halaman Masjid Gedhe, prajurit yang mengawal adalah prajurit Bugis yang berseragam hitam-hitam dengan topinya yang khas serta prajurit Surakarsa yang berpakaian putih-putih.

Setelah gunungan diserahkan kepada penghulu Masjid Gede untuk kemudian didoakan oleh penghulu tersebut, gunungan pun dibagikan. Namun belum selesai doa diucapkan, gunungan pun sontak direbut oleh masyarakat yang datang dari seluruh penjuru Jogja. Yang memprihatinkan, banyak sekali nenek-nenek yang ikut berebut gunungan. Memang ada kepercayaan dari masyarakat bahwa barangsiapa yang mendapat bagian apa pun dari gunungan tersebut, dia akan mendapat berkah. Filosofi berebut atau “ngrayah” ini menggambarkan bahwa untuk mencapai suatu tujuan, manusia harus “ngrayah” atau berusaha untuk mengambilnya.

 

  1. Bentuk Akulturasi Pendidikan Islam:
  • Akulturasi sistem pendidikan/pengajaran Pesantren

Pada mulanya yang menjadi guru dalam pengajaran di pesantren langsung di ajar atau ditangani langsung oleh Kiai. Namun, pada perkembangannya telah ada guru-guru khusus yang menjadi tenaga pengajar, sedangkan Kiai sebagai pemimpin pesantren dan lebih bersifat simbolik.

 

  • Pembaharuan bidang pengetahuan/pengajaran di dunia Pesantren.

Seperti yang telah diuraukan sebelumya, bahwa pengajaran Pesantren pada mulanya bersifat praktis, yaitu supaya murid-muridnya dapat membaca Al-Quran dan belajar ilmu fikh. Dimana, orientasi dari pendidikan tersebut adalah hanya seputar ilmu-ilmu keagamaan. Namun, sekitar tahun 1900-an pengajaran di Pesantren mulai memasukkan ilmu lain seperti ilmu aljabar, membaca tulisan latin, dan berhitung ke dalam kurikulumnya. Akan tetapi, ilmu agama Islam tetap yang menjadi prioritas dan tujuan utama. Selain itu, bentuk pendidikannya masih berupa asrama atau lebih dikenal pondok pesantren. Misalnya saja, Pesantren Manbaul Ulum di Surakarta (1906).[8]

  • Dakwah

Dakwah biasanya dilakukan oleh wali songo dalam upaya menyebarkan agama islam. Dalam melakukan dakwah, para wali menggunakan akulturasi dan inkulturasi agar dakwahnya dapat diterima oleh masyarakat setempat. Proses akulturasi bersifat informative, edukatif, persuasive dan memanfaatkan jalur seni dan budaya.

  • Tasawuf

Kata tasawuf adalah bentuk masdhar dari kata dasar Suf, artinya waol yang biasa dipakai sebagai jubah orang-orang yang menjalankan kehidupan mistik atau disebut Sufi. Tasawuf sering dihubungkan dengan penertian Suluk yang berasal dari bahasa Arab yang berarti perjalan. Oleh orang-orang Sufi, pengertian Suluk dipergunakan untuk menggambarkan perjalan mistik menuju Tuhan yang dimulai dengan memasuki Tarika atau jalan dibawah pimpinan Syaikh.

End Note:

 

[1] Abuddin Nata dan A. Azra, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembaga

Pendidikan Islam Di Indonesia, 2001, Jakarta: Gramedia, hal. 195.

[2] Ibid, hal: 198-201

[3] Sachari, Agus, dan Yan Yan Sunarya, Desain dan Dunia Kesenirupaan Indonesia Dalam Wacana Transformasi Budaya, Bandung, Penerbit ITB, 2001, hlm.87

[4] Ibid, hlm 86-87

[5] http://www.beritajogja.com/berita/2009-03/grebeg-menutup-sekaten-gunungan-tumpeng-jadi-rebutan-masyarakat

[6] http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/03/20/grebeg-maulud-puncak-acara-sekaten.html

[7] Idem.   

[8] Abuddin Nata dan A. Azra, op.cit., hal: 155.

 

Djumhur. Sejarah Pendidikan. Bandung: CV ILMU.

K.H. Saifuddin Zuhri. …. Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia.

Muhaimin. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung: Trigenda Karya.

Sachari, dkk. 2001. Desain dan Dunia Kesenirupaan Indonesia Dalam Wacana Transformasi Budaya. Bandung: Penerbit ITB.

Said, D. Mansur. 1959. Mendidik dari Zaman ke Zaman. Jakarta: Pustaka Rakyat.

 

http://keuskupan.blogspot.com/2009/03/memahami-dan-menjalankan-inkulturasi.html http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/03/20/grebeg-maulud-puncak-acara-sekaten.html

http://www.beritajogja.com/berita/2009-03/grebeg-menutup-sekaten-gunungan-tumpeng-jadi-rebutan-masyarakat

http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/03/20/grebeg-maulud-puncak-acara-sekaten.html.

 

About artantio

saya hanya manusia biasa yang gemar menulis... ^^

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: